Minggu, 06 April 2014

Pengertian Drama dan Teater

          Pengertian Drama dan Teater

Teater adalah istilah lain dari drama, tetapi dalam pengertian yang lebih luas, teater adalah proses pemilihan teks atau naskah (kalau ada) , penafiran, penggarapan, penyajian atau pementasan dan proses pemahaman atau penikmatan dari public atau audience (bisa pembaca, pendengar, penonton, pengamat, kritikus atau peneliti). Proses penjadian drama ke teater disebut prose teater atau disingkat berteater. Teater berasal dari kata theatron yang diturunkan dari kata theaomai(bahasa yunani) yang artinya takjub melihat atau memandang.
Teater bisa diartikan dengan dua cara yaitu dalam arti sempit dan dalam arti luas.
Teeater dalam arti sempit adalah sebagai drama (kisah hidup dan kehiudpan manusia yang diceritakan di atas pentas, disaksikan orang banyak dan didasarkan pada naskah yang tertulis.
Dalam arti luas, teater adalah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak contohnya wayang orang, ketoprak, ludruk dan lain-lain.



ARTI DRAMA

  1. Drama berarti perbuatan, tindakan. Berasal dari bahasa Yunani “draomai” yang berarti berbuat, berlaku, bertindak dan sebagainya.
  2. Drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak
  3. Konflik dari sifat manusia merupakan sumber pokok drama
Dalam bahasa Belanda, drama adalah toneel, yang kemudian oleh PKG Mangkunegara VII dibuat istilah Sandiwara.
ARTI TEATER

  1. Secara etimologis : Teater adalah gedung pertunjukan atau auditorium.
  2. Dalam arti luas : Teater ialah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak
  3. Dalam arti sempit : Teater adalah drama, kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas dengan media : Percakapan, gerak dan laku didasarkan pada naskah yang tertulis ditunjang oleh dekor, musik, nyanyian, tarian, dsb.
AKTING YANG BAIK

Akting tidak hanya berupa dialog saja, tetapi juga berupa gerak.
Dialog yang baik ialah dialog yang :
  1. terdengar (volume baik)
  2. jelas (artikulasi baik)
  3. dimengerti (lafal benar)
  4. menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam naskah)
Gerak yang balk ialah gerak yang :
  1. terlihat (blocking baik)
  2. jelas (tidak raguragu, meyakinkan)
  3. dimengerti (sesuai dengan hukum gerak dalam kehidupan)
  4. menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam naskah)
Penjelasan :
  • Volume suara yang baik ialah suara yang dapat terdengar sampai jauh
  • Artikulasi yang baik ialah pengucapan yang jelas. Setiap suku kata terucap dengan jelas dan terang meskipun diucapkan dengan cepat sekali. Jangan terjadi katakata yang diucapkan menjadi tumpang tindih.
  • Lafal yang benar pengucapan kata yang sesuai dengan hukum pengucapan bahasa yang dipakai . Misalnya berani yang berarti “tidak takut” harus diucapkan berani bukan berani.
  • Menghayati atau menjiwai berarti tekanan atau lagu ucapan harus dapat menimbulkan kesan yang sesuai dengan tuntutan peran dalam naskah
  • Blocking ialah penempatan pemain di panggung, diusahakan antara pemain yang satu dengan yang lainnya tidak saling menutupi sehingga penonton tidak dapat melihat pemain yang ditutupi.

 Teater (bahasa Inggris: theater atau theatre, bahasa Perancis théâtre berasal dari kata theatron (θέατρον) dari bahasa Yunani, yang berarti "tempat untuk menonton"). Teater adalah istilah lain dari drama, tetapi dalam pengertian yang lebih luas, teater adalah proses pemilihan teks atau naskah, penafiran, penggarapan, penyajian atau pementasan dan proses pemahaman atau penikmatan dari public atau audience (bisa pembaca, pendengar, penonton, pengamat, kritikus atau peneliti). Proses penjadian drama ke teater disebut prose teater atau disingkat berteater. Teater bisa diartikan dengan dua cara yaitu dalam arti sempit dan dalam arti luas. Teater dalam arti sempit adalah sebagai drama (kisah hidup dan kehiudpan manusia yang diceritakan di atas pentas, disaksikan orang banyak dan didasarkan pada naskah yang tertulis). Dalam arti luas, teater adalah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak contohnya wayang orang, ketoprak, ludruk dan lain-lain.


Arti Drama

  1. Drama berarti perbuatan, tindakan. Berasal dari bahasa Yunani “draomai” yang berarti berbuat, berlaku, bertindak dan sebagainya.
  2. Drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak.
  3. Konflik dari sifat manusia merupakan sumber pokok drama.
Dalam bahasa Belanda, drama adalah toneel, yang kemudian oleh PKG Mangkunegara VII dibuat istilah Sandiwara.

Arti Teater

  1. Secara etimologis: Teater adalah gedung pertunjukan atau auditorium.
  2. Dalam arti luas: Teater ialah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak
  3. Dalam arti sempit: Teater adalah drama, kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas dengan media yaitu percakapan, gerak dan laku didasarkan pada naskah yang tertulis ditunjang oleh dekor, musik, nyanyian, tarian, dsb.

Akting Yang Baik

Akting tidak hanya berupa dialog saja, tetapi juga berupa gerak.
Dialog yang baik ialah dialog yang:
  • Terdengar (volume baik)
  • Jelas (artikulasi baik)
  • Dimengerti (lafal benar)
  • Menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam naskah)
Gerak yang balk ialah gerak yang:
  • Terlihat (blocking baik)
  • Jelas (tidak raguragu, meyakinkan)
  • Dimengerti (sesuai dengan hukum gerak dalam kehidupan)
  • Menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam naskah)

Unsur-Unsur Dalam Teater

Unsur-unsur dalam teater antara lain:

1. Naskah atau Skenario

Naskah atau Skenario berisi kisah dengan nama tokoh dan diaolog yang duicapkan.

2. Pemain

Pemain merupakan orang yang memerankan tokoh tertentu. Ada tiga jenis pemain, yaitu peran utama, peran pembantu dan peran tambahan atau figuran. Dalam film atau sinetron, pemain biasanya disebut Aktris untuk perempuan, dan Aktor untuk laki-laki.

3. Sutradara

Sutradara adalah orang yang memimpin dan mengatur sebuah teknik pembuatan atau pementasan teater.

4. Properti

Properti merupakan sebuah perlengkapan yang diperlukan dalam pementasan teater. Contohnya kursi, meja, robot, hiasan ruang, dekorasi, dan lain-lain

5.Penataan

Seluruh pekerja yang terkait dengan pementasan teater, antara lain:
1. Tata Rias adalah cara mendadndani pemain dalam memerankan tokoh teater agar lebih meyakinkan.
2. Tata Busana adalah pengaturan pakaina pemain agar mendukung keadaan yang menghendaki. Contohnya pakaian sekolah lain dengan pakaian harian.
3. Tata Lampu adalah pencahayaan dipanggung.
4. Tata Suara adalah pengaturan pengeras suara.

 

 Sejarah Teater

    - Teater musikal



The Black Crook (1866), dianggap oleh sejumlah sejarawan sebagai musikal pertama di dunia
Teater musikal adalah bentuk teater yang menggabungkan lagu, dialog ucapan, akting, dan tarian. Konten emosionalnya – humor, pathos, cinta, kemarahan – serta ceritanya dikomunikasikan melaluikata-kata, musik, gerakan dan aspek teknis hiburan sebagai satu kesatuan utuh. Meski teater musikal juga mencakup bentuk teater lain seperti opera, hal ini dapat dibedakan dari kepentingan setara terhadap musik jika dibandingkan dengan dialog, gerakan, dan elemen lain karya tersebut. Sejak awal abad ke-20, karya pertunjukan teater musikal umumnya hanya disebut "musikal".
Musikal dipertunjukkan di seluruh dunia. Musikal bisa diadakan di panggung besar, seperti produksi beranggaran besar teater West End dan Broadway di London dan New York City, atau di teater pagar kecil, produksi Off-Broadway atau teater regional, tur, atau kelompok amatir di sekolah, teater dan ruang pertunjukan lain. Selain Britania dan Amerika Serikat, ada berbagai teater musikal di beberapa negara di Eropa, Amerika Latin, Australasia dan Asia.
Meski musik telah menjadi bagian dari penampilan dramatis sejak zaman-zaman kuno, teater musikal modern muncul pada abad ke-19, ditandai dengan karya-karya Gilbert and Sullivan di Britania dan Harrigan and Hart di Amerika Serikat, diikuti berbagai komedi musikal Edward dan karya pengarang Amerika Serikat seperti George M. Cohan. Pada awal abad ke-20, musikal Princess Theatre dan acara cerdas lain seperti Of Thee I Sing adalah tahap artistik yang selangkah di depan revue dan hiburan-hiburan lain yang mendorong munculnya gebrakan baru seperti Show Boat dan Oklahoma!. Sejumlah musikal terkenal dan ikonik sepanjang beberapa dasawarsa meliputi West Side Story, The Fantasticks, Hair, A Chorus Line, Les Misérables, The Phantom of the Opera, Rent, The Producers dan Wicked.

  Tragedi


Topeng Dionisos, ditemukan di Myrina (Turki). Terakota, abad ke-1 - 2 SM. Topeng tersebut dipakai dalam drama tragedi pada masa Yunani kuno. Dalam drama Yunani, termasuk drama tragedi, semua aktornya memakai topeng..
Tragedi adalah genre drama yang menceritakan kisah yang menyedihkan. Dalam tragedi, tokohnya biasanya memiliki kualitas-kualitas yang baik namun mengalami nasib yang buruk dan menyebabkan dirinya, atau kerabat dan sahabatnya, mengalami masalah. Drama tragedi berasal dari Yunani kuno dan biasanya dipentaskan dalam festival keagamaan. Penulia tragedi Yunani yang terkenal yaitu Aiskhilos, Sofokles, dan Euripides, sedangkan penulis tragedi masa modern yang terkenal adalah William Shakespeare.
 ARTI DRAMA


  1. Drama berarti perbuatan, tindakan. Berasal dari bahasa Yunani “draomai” yang berarti berbuat, berlaku, bertindak dan sebagainya.
  2. Drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak
  3. Konflik dari sifat manusia merupakan sumber pokok drama
Dalam bahasa Belanda, drama adalah toneel, yang kemudian oleh PKG Mangkunegara VII dibuat istilah Sandiwara.
ARTI TEATER

  1. Secara etimologis : Teater adalah gedung pertunjukan atau auditorium.
  2. Dalam arti luas : Teater ialah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak
  3. Dalam arti sempit : Teater adalah drama, kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas dengan media : Percakapan, gerak dan laku didasarkan pada naskah yang tertulis ditunjang oleh dekor, musik, nyanyian, tarian, dsb.
AKTING YANG BAIK

 

Akting tidak hanya berupa dialog saja, tetapi juga berupa gerak.
Dialog yang baik ialah dialog yang :
  1. terdengar (volume baik)
  2. jelas (artikulasi baik)
  3. dimengerti (lafal benar)
  4. menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam naskah)
Gerak yang balk ialah gerak yang :
  1. terlihat (blocking baik)
  2. jelas (tidak raguragu, meyakinkan)
  3. dimengerti (sesuai dengan hukum gerak dalam kehidupan)
  4. menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam naskah)
Penjelasan :
  • Volume suara yang baik ialah suara yang dapat terdengar sampai jauh
  • Artikulasi yang baik ialah pengucapan yang jelas. Setiap suku kata terucap dengan jelas dan terang meskipun diucapkan dengan cepat sekali. Jangan terjadi katakata yang diucapkan menjadi tumpang tindih.
  • Lafal yang benar pengucapan kata yang sesuai dengan hukum pengucapan bahasa yang dipakai . Misalnya berani yang berarti “tidak takut” harus diucapkan berani bukan berani.
  • Menghayati atau menjiwai berarti tekanan atau lagu ucapan harus dapat menimbulkan kesan yang sesuai dengan tuntutan peran dalam naskah
  • Blocking ialah penempatan pemain di panggung, diusahakan antara pemain yang satu dengan yang lainnya tidak saling menutupi sehingga penonton tidak dapat melihat pemain yang ditutupi.
    artikel ke 2

    Seni Teater (Sejarah,Pengertian dan Bentuk))


    SENI TEATER
    (SEJARAH,PENGERTIAN DAN BENTUK)
    Sejarah Teater
    Kata tater atau drama berasal dari   bahasa Yunani ”theatrom” yang berarti  seeing Place (Inggris).  Tontonan  drama  memang  menonjolkan  percakapan  (dialog) dan gerak-gerik para pemain (aktif) di panggung. Percakapan dan gerak-gerik itu  memperagakan  cerita  yang  tertulis  dalam  naskah.  Dengan  demikian, penonton  dapat  langsung  mengikuti  dan  menikmati  cerita  tanpa  harus membayangkan.
    Teater sebagai tontotan sudah ada sejak zaman dahulu. Bukti tertulis pengungkapan  bahwa  teater  sudah  ada  sejak  abad  kelima  SM.  Hal  ini didasarkan temuan naskah teater kuno di Yunani. Penulisnya Aeschylus yang hidup antara tahun  525-456 SM.  Isi lakonnya berupa persembahan untuk memohon kepada dewa-dewa.
    Lahirnya  adalah  bermula  dari  upacara  keagamaan  yang  dilakukan para  pemuka  agama,  lambat  laun  upacara  keagamaan  ini  berkembang, bukan hanya berupa nyanyian, puji-pujian, melainkan juga doa dan cerita yang  diucapkan  dengan  lantang,  selanjutnya  upacara  keagamaan  lebih menonjolkan penceritaan.
    Sebenarnya   istilah   teater   merujuk   pada   gedung   pertunjukan, sedangkan   istilah   drama   merujuk   pada   pertunjukannya,   namun   kini kecenderungan  orang  untuk  menyebut  pertunjukan  drama  dengan  istilah teater.
    1.  Mengapresiasikan Karya Seni Teater
    Kegiatan   berteater   dalam   kehidupan   masyarakat   dan   budaya Indonesia  bukan  merupakan  sesuatu  yang  asing  bahkan  sudah  menjadi bagian  yang  tidak  terpisahkan,  kegiatan  teater  dapat  kita  lihat     dalam peristiwa-peristiwa  Ritual  keagamaan,  tingkat-tingkat  hidup,  siklus  hidup (kelahiran,   pertumbuhan   dan   kematian)   juga   hiburan.   Setiap   daerah mempunyai keunikan dan kekhasan dalam tata cara penyampaiannya. Untuk dapat mengapresiasi dengan baik mengenai seni teater terutama teater yang ada di Indonesia  sebelumnya kita harus memahami apa seni teater itu  ? bagaimana ciri khas teater yang berkembang di wilayah negara kita.
    2.  Pengertian Teater
      arti luas teater adalah segala tontonon yang dipertunjukan didepan orang banyak, misalnya wayang golek, lenong, akrobat, debus, sulap, reog, band dan sebagainya.
      arti  sempit  adalah  kisah  hidup  dan  kehidupan  manusia  yang diceritakan  diatas  pentas,  disaksikan  oleh  orang  banyak,  dengan media :  percakapan,gerak  dan  laku dengan  atau  tanpa  dekor, didasarkan pada naskah tertulis denga diiringi musik, nyanyian dan tarian.
    Teater  adalah  salah  satu  bentuk  kegiatan  manusia  yang  secara  sadar menggunakan tubuhnya sebagai unsur utama untuk menyatakan dirinya yang diwujudkan  dalam  suatu  karya  (seni  pertunjukan)  yang  ditunjang  dengan unsur  gerak,  suara,  bunyi  dan  rupa  yang  dijalin  dalam  cerita  pergulatan tentang kehidupan manusia.
    Unsur-unsur teater menurut urutannya :
    Tubuh manusia sebagai unsur utama (Pemeran/ pelaku/ pemain/actor)
    Gerak  sebagai unsur  penunjang  (gerak  tubuh,gerak  suara,gerak  bunyi
       
    dan gerak rupa)
    Suara sebagai unsur penunjang (kata, dialog, ucapan pemeran)
    Bunyi sebagai efek Penunjang (bunyi benda, efek dan musik)
    Rupa sebagai unsur penunjang (cahaya, dekorasi, rias dan kostum)
    Lakon sebagai unsur penjalin (cerita, non cerita, fiksi dan narasi)
    Teater sebagai hasil karya (seni) merupakan satu kesatuan yang utuh antara manusia  sebagai  unsur  utamanya  dengan  unsur  -unsur  penunjang  dan penjalinnya. Dan dapat dikatakan bahwa teater merupakan perpaduan segala macam pernyataan seni.
    3. Bentuk Teater Indonesia berdasarkan pendukungnya :
    a.  Teater rakyat yaitu teater yang didukung oleh masyarakat kalangan pedesaan , bentuk teater ini punya karakter bebas tidak terikat oleh kaidah-kaidah pertunjukan yang   kaku, sifat nya spontan,improvisasi. Contoh : lenong, ludruk, ketoprak dll.
    b.  Teater Keraton yaitu   Teater yang lahir dan berkembang dilingkungan keraton dan kaum bangsawan. Pertunjukan dilaksanakan hanya untuk lingkungan   terbatas  dengan   tingkat   artistik   sangat   tinggi,cerita berkisar pada kehidupan kaum bangsawan yang dekat dengan dewadewa . Contoh : teater Wayang
    c.  Teater  Urban  atau  kota-kota.  Teater  ini    Masih  membawa  idiom bentuk rakyat dan keraton . teater jenis ini   lahir dari kebutuhan yang timbul    dengan    tumbuhnya    kelompok-kelompok    baru    dalam masyarakat    dan  sebagai  produk  dari  kebutuhan  baru  ,  sebagai fenomena modern dalam seni pertunjukan di Indonesia.
    d.  Teater kontemporer,yaitu teater yang menampilkan peranan manusia bukan  sebagai  tipe  melainkan  sebagai  individu .  dalam  dirinya terkandung potensi yang besar untuk tumbuh dengan kreatifitas yang tanpa batas. Pendukung    teater ini masih sedikit yaitu orang-orang yang  menggeluti  teater  secara  serius  mengabdikan  hidupnya  pada teater  dengan  melakukan  pencarian,  eksperimen  berbagai  bentuk teater untuk mewujudkan teater Indonesia masa kini.
    Sebagian besar daerah di Indonesia mempunyai kegiatan berteater yang tumbuh  dan  berkembang  secara  turun  menurun.  Kegiatan  ini  masih bertahan sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang erat hubungannya dengan budaya agraris (bertani) yang tidak lepas dari unsur-unsur ritual kesuburan, siklus kehidupan maupun hiburan.   Misalnya : untuk memulai menanam padi harus diadakan upacara   khusus untuk meminta bantuan leluhur agar padi yang ditanam subur, berkah dan terjaga dari berbagai gangguan.  Juga  ketika  panen,  sebagai  ucapan  terima  kasih  maka dilaksanakan  upacara  panen.  Juga  peringatan  tingkat-tingkat  hidup seseorang  (kelahiran, khitanan, naik pangkat/ status dan kematian dll) selalu  ditandai  dengan  peristiwa-peristiwa  teater  dengan  penampilan berupa tarian,nyanyian maupun cerita,   dengan acara, tata cara yang unik dan menarik.
    Teater  rakyat  adalah  teater  yang  hidup  dan  berkembang  dikalangan masyarat untuk memenuhi kebutuhan ritual dan hiburan rakyat.
    Sumber : Sri Hermawati Arini,dkk (Seni Budaya Jilid 2, BSE)
    artikel3

    Dasar-dasar Teater (5/6): Seni Rupa dalam Teater


    Foto rahadian

    5.1 TATA PANGGUNG

    Tata panggung disebut juga dengan istilah scenery (tata dekorasi). Gambaran tempat kejadian lakon diwujudkan oleh tata panggung dalam pementasan. Tidak hanya sekedar dekorasi (hiasan) semata, tetapi segala tata letak perabot atau piranti yang akan digunakan oleh aktor disediakan oleh penata panggung. Penataan panggung disesuaikan dengan tuntutan cerita, kehendak artistik sutradara, dan panggung tempat pementasan dilaksanakan. Oleh karena itu, sebelum melaksanakan penataan panggung seorang penata panggung perlu mempelajari panggung pertunjukan.

    5.1.1 Mempelajari Panggung

    Dalam sejarah perkembangannya, seni teater memiliki berbagai macam jenis panggung yang dijadikan tempat pementasan. Perbedaan jenis panggung ini dipengaruhi oleh tempat dan zaman dimana teater itu berada serta gaya pementasan yang dilakukan. Bentuk panggung yang berbeda memiliki prinsip artistik yang berbeda. Misalnya, dalam panggung yang penontonnya melingkar, membutuhkan tata letak perabot yang dapat enak dilihat dari setiap sisi. Berbeda dengan panggung yang penontonnya hanya satu arah dari depan. Untuk memperoleh hasil terbaik, penata panggung diharuskan memahami karakter jenis panggung yang akan digunakan serta bagian-bagian panggung tersebut.

    5.1.2 Jenis-jenis Panggung

    Panggung adalah tempat berlangsungnya sebuah pertunjukan dimana interaksi antara kerja penulis lakon, sutradara, dan aktor ditampilkan di hadapan penonton. Di atas panggung inilah semua laku lakon disajikan dengan maksud agar penonton menangkap maksud cerita yang ditampilkan. Untuk menyampaikan maksud tersebut pekerja teater mengolah dan menata panggung sedemikian rupa untuk mencapai maksud yang dinginkan. Seperti telah disebutkan di atas bahwa banyak sekali jenis panggung tetapi dewasa ini hanya tiga jenis panggung yang sering digunakan. Ketiganya adalah panggung proscenium, panggung thrust, dan panggung arena. Dengan memahami bentuk dari masingmasing panggung inilah, penata panggung dapat merancangkan karyanya berdasar lakon yang akan disajikan dengan baik.

    5.1.2.1 Arena

    Panggung arena adalah panggung yang penontonnya melingkar atau duduk mengelilingi panggung. Penonton sangat dekat sekali dengan pemain. Agar semua pemain dapat terlihat dari setiap sisi maka penggunaan set dekor berupa bangunan tertutup vertikal tidak diperbolehkan karena dapat menghalangi pandangan penonton. Karena bentuknya yang dikelilingi oleh penonton, maka penata panggung dituntut kreativitasnya untuk mewujudkan set dekor. Segala perabot yang digunakan dalam panggung arena harus benar-benar dipertimbangkan dan dicermati secara hati-hati baik bentuk, ukuran, dan penempatannya. Semua ditata agar enak dipandang dari berbagai sisi.
    Panggung arena biasanya dibuat secara terbuka (tanpa atap) dan tertutup. Inti dari pangung arena baik terbuka atau tertutup adalah mendekatkan penonton dengan pemain. Kedekatan jarak ini membawa konsekuensi artistik tersendiri baik bagi pemain dan (terutama) tata panggung. Karena jaraknya yang dekat, detil perabot yang diletakkan di atas panggung harus benar-benar sempurna sebab jika tidak maka cacat sedikit saja akan nampak. Misalnya, di atas panggung diletakkan kursi dan meja berukir. Jika bentuk ukiran yang ditampilkan tidak nampak sempurna - berbeda satu dengan yang lain - maka penonton akan dengan mudah melihatnya. Hal ini mempengaruhi nilai artistik pementasan.
    Lepas dari kesulitan yang dihadapi, panggun arena sering menjadi pilihan utama bagi teater tradisional. Kedekatan jarak antara pemain dan penonton dimanfaatkan untuk melakukan komunikasi langsung di tengah-tengah pementasan yang menjadi ciri khas teater tersebut. Aspek kedekatan inilah yang dieksplorasi untuk menimbulkan daya tarik penonton. Kemungkinan berkomunikasi secara langsung atau bahkan bermain di tengah-tengah penonton ini menjadi tantangan kreatif bagi teater modern. Banyak usaha yang dilakukan untuk mendekatkan pertunjukan dengan penonton, salah satunya adalah penggunaan panggung arena. Beberapa pengembangan desain dari teater arena melingkar dilakukan sehingga bentuk teater arena menjadi bermacammacam.

    5.1.2.2 Proscenium

    Panggung proscenium bisa juga disebut sebagai panggung bingkai karena penonton menyaksikan aksi aktor dalam lakon melalui sebuah bingkai atau lengkung proscenium (proscenium arch). Bingkai yang dipasangi layar atau gorden inilah yang memisahkan wilayah akting pemain dengan penonton yang menyaksikan pertunjukan dari satu arah. Dengan pemisahan ini maka pergantian tata panggung dapat dilakukan tanpa sepengetahuan penonton.
    Panggung proscenium sudah lama digunakan dalam dunia teater. Jarak yang sengaja diciptakan untuk memisahkan pemain dan penonton ini dapat digunakan untuk menyajikan cerita seperti apa adanya. Aktor dapat bermain dengan leluasa seolah-olah tidak ada penonton yang hadir melihatnya. Pemisahan ini dapat membantu efek artistik yang dinginkan terutama dalam gaya realisme yang menghendaki lakon seolah-olah benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata.

    Tata panggung pun sangat diuntungkan dengan adanya jarak dan pandangan satu arah dari penonton. Perspektif dapat ditampilkan dengan memanfaatkan kedalaman panggung (luas panggung ke belakang). Gambar dekorasi dan perabot tidak begitu menuntut kejelasan detil sampai hal-hal terkecil. Bentangan jarak dapat menciptakan bayangan arstisitk tersendiri yang mampu menghadirkan kesan. Kesan inilah yang diolah penata panggung untuk mewujudkan kreasinya di atas panggung proscenium. Seperti sebuah lukisan, bingkai proscenium menjadi batas tepinya. Penonton disuguhi gambaran melalui bingkai tersebut.
    Hampir semua sekolah teater memiliki jenis panggung proscenium. Pembelajaran tata panggung untuk menciptakan ilusi (tipuan) imajinatif sangat dimungkinkan dalam panggung proscenium. Jarak antara penonton dan panggung adalah jarak yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan gambaran kreatif pemangungan. Semua yang ada di atas panggung dapat disajikan secara sempurna seolah-olah gambar nyata. Tata cahaya yang memproduksi sinar dapat dihadirkan dengan tanpa terlihat oleh penonton dimana posisi lampu berada. Intinya semua yang di atas panggung dapat diciptakan untuk mengelabui pandangan penonton dan mengarahkan mereka pada pemikiran bahwa apa yang terjadi di atas pentas adalah kenyataan. Pesona inilah yang membuat penggunaan panggung proscenium bertahan sampai sekarang.

    5.1.3 Fungsi Tata Panggung

    Dalam perancangan tata panggung selain mempertimbangkan jenis panggung yang akan digunakan ada beberapa elemen komposisi yang perlu diperhatikan. Sebelum menjelaskan semua itu, fungsi tata panggung perlu dibahas terlebih dahulu. Selain merencanakan gambar dekor, penata panggung juga bertanggungjawab terhadap segala perabot yang digunakan. Karena keseluruhan objek yang ada di atas panggung dan digunakan oleh aktor membentuk satu lukisan secara menyeluruh.
    Perabot dan piranti sangat penting dalam mencipta lukisan panggung, terutama pada panggung arena dimana lukisan dekor atau bentuk bangunan vertikal tertutup seperti dinding atau kamar (karena akan menghalangi pandangan sebagian penonton) tidak memungkinkan diletakkan di atas panggung. Tata perabot kemudian menjadi unsur pokok pada tata panggung arena. Unsur-unsur ini ditata sedemikian rupa sehingga bisa memberikan gambaran lengkap yang berfungsi untuk menjelaskan suasana dan semangat lakon, periode sejarah lakon, lokasi kejadian, status karakter peran, dan musim dalam tahun dimana lakon dilangsungkan.

    5.1.4 Elemen Komposisi

    Desain tata panggung sebaiknya dibuat dengan mudah dan bebas. Artinya, imajinasi dapat dituangkan sepenuhnya ke dalam gambar desain tanpa lebih dulu berpikir tentang kemungkinan visualisasinya. Pemikiran lain di luar desain akan menghambat imajinasi dan akhrinya memberikan batasan. Penyuntingan atau pengolahan bisa dilakukan setelah gagasan tertuang. Dalam pembuatan desain gambar tata panggung yang terpenting adalah cara mengatur, menata, dan memanipulasi elemen komposisi yang menjadi dasar dari seluruh kerja desain.

    5.2 TATA CAHAYA

    Cahaya adalah unsur tata artistik yang paling penting dalam pertunjukan teater. Tanpa adanya cahaya maka penonton tidak akan dapat menyaksikan apa-apa. Dalam pertunjukan era primitif manusia hanya menggunakan cahaya matahari, bulan atau api untuk menerangi. Sejak ditemukannya lampu penerangan manusia menciptakan modifikasi dan menemukan hal-hal baru yang dapat digunakan untuk menerangi panggung pementasan. Seorang penata cahaya perlu mempelajari pengetahuan dasar dan penguasaan peralatan tata cahaya. Pengetahuan dasar ini selanjutnya dapat diterapkan dan dikembangkan dalam penataan cahaya untuk kepentingan artistik pemanggungan.

    5.2.1 Fungsi Tata Cahaya

    Tata cahaya yang hadir di atas panggung dan menyinari semua objek sesungguhnya menghadirkan kemungkinan bagi sutradara, aktor, dan penonton untuk saling melihat dan berkomunikasi. Semua objek yang disinari memberikan gambaran yang jelas kepada penonton tentang segala sesuatu yang akan dikomunikasikan. Dengan cahaya, sutradara dapat menghadirkan ilusi imajinatif. Banyak hal yang bisa dikerjakan bekaitan dengan peran tata cahaya tetapi fungsi dasar tata cahaya ada empat, yaitu penerangan, dimensi, pemilihan, dan atmosfir (Mark Carpenter, 1988).
    • Penerangan. Inilah fungsi paling mendasar dari tata cahaya. Lampu memberi penerangan pada pemain dan setiap objek yang ada di atas panggung. Istilah penerangan dalam tata cahaya panggung bukan hanya sekedar memberi efek terang sehingga bisa dilihat tetapi memberi penerangan bagian tertentu dengan intensitas tertentu. Tidak semua area di atas panggung memiliki tingkat terang yang sama tetapi diatur dengan tujuan dan maksud tertentu sehingga menegaskan pesan yang hendak disampaikan melalui laku aktor di atas pentas.
    • Dimensi. Dengan tata cahaya kedalaman sebuah objek dapat dicitrakan. Dimensi dapat diciptakan dengan membagi sisi gelap dan terang atas objek yang disinari sehingga membantu perspektif tata panggung. Jika semua objek diterangi dengan intensitas yang sama maka gambar yang akan tertangkap oleh mata penonton menjadi datar. Dengan pengaturan tingkat intensitas serta pemilahan sisi gelap dan terang maka dimensi objek akan muncul.
    • Pemilihan. Tata cahaya dapat dimanfaatkan untuk menentukan objek dan area yang hendak disinari. Jika dalam film dan televisi sutradara dapat memilih adegan menggunakan kamera maka sutradara panggung melakukannya dengan cahaya. Dalam teater, penonton secara normal dapat melihat seluruh area panggung, untuk memberikan fokus perhatian pada area atau aksi tertentu sutradara memanfaatkan cahaya. Pemilihan ini tidak hanya berpengaruh bagi perhatian penonton tetapi juga bagi para aktor di atas pentas serta keindahan tata panggung yang dihadirkan.
    • Atmosfir. Yang paling menarik dari fungsi tata cahaya adalah kemampuannya menghadirkan suasana yang mempengaruhi emosi penonton. Kata “atmosfir” digunakan untuk menjelaskan suasana serta emosi yang terkandung dalam peristiwa lakon. Tata cahaya mampu menghadirkan suasana yang dikehendaki oleh lakon. Sejak ditemukannya teknologi pencahayaan panggung, efek lampu dapat diciptakan untuk menirukan cahaya bulan dan matahari pada waktu-waktu tertentu. Misalnya, warna cahaya matahari pagi berbeda dengan siang hari. Sinar mentari pagi membawa kehangatan sedangkan sinar mentari siang hari terasa panas. Inilah gambaran suasana dan emosi yang dapat dimunculkan oleh tata cahaya.
    Keempat fungsi pokok tata cahaya di atas tidak berdiri sendiri. Artinya, masing-masing fungsi memiliki interaksi (saling mempengaruhi). Fungsi penerangan dilakukan dengan memilih area tertentu untuk memberikan gambaran dimensional objek, suasana, dan emosi peristiwa. Selain keempat fungsi pokok di atas, tata cahaya memiliki fungsi pendukung yang dikembangkan secara berlainan oleh masing-masing ahli tata cahaya. Beberapa fungsi pendukung yang dapat ditemukan dalam tata cahaya adalah sebagai berikut.
    • Gerak. Tata cahaya tidaklah statis. Sepanjang pementasan, cahaya selalu bergerak dan berpindah dari area satu ke area lain, dari objek satu ke objek lain. Gerak perpindahan cahaya ini mengalir sehingga kadang-kadang perubahannya disadari oleh penonton dan kadang tidak. Jika perpindahan cahaya bergerak dari aktor satu ke aktor lain dalam area yang berbeda, penonton dapat melihatnya dengan jelas. Tetapi pergantian cahaya dalam satu area ketika adegan tengah berlangsung terkadang tidak secara langsung disadari. Tanpa sadar penonton dibawa ke dalam suasana yang berbeda melalui perubahan cahaya.
    • Gaya. Cahaya dapat menunjukkan gaya pementasan yang sedang dilakonkan. Gaya realis atau naturalis yang mensyaratkan detil kenyataan mengharuskan tata cahaya mengikuti cahaya alami seperti matahari, bulan atau lampu meja. Dalam gaya Surealis tata cahaya diproyeksikan untuk menyajikan imajinasi atau fantasi di luar kenyataan seharihari. Dalam pementasan komedi atau dagelan tata cahaya membutuhkan tingkat penerangan yang tinggi sehingga setiap gerak lucu yang dilakukan oleh aktor dapat tertangkap jelas oleh penonton.
    • Komposisi. Cahaya dapat dimanfaatkan untuk menciptakan lukisan panggung melalui tatanan warna yang dihasilkannya.
    • Penekanan. Tata cahaya dapat memberikan penekanan tertentu pada adegan atau objek yang dinginkan. Penggunaan warna serta intensitas dapat menarik perhatian penonton sehingga membantu pesan yang hendak disampaikan. Sebuah bagian bangunan yang tinggi yang senantiasa disinari cahaya sepanjang pertunjukan akan menarik perhatian penonton dan menimbulkan pertanyaan sehingga membuat penonton menyelidiki maksud dari hal tersebut.
    • Pemberian tanda. Cahaya berfungsi untuk memberi tanda selama pertunjukan berlangsung. Misalnya, fade out untuk mengakhiri sebuah adegan, fade in untuk memulai adegan dan black out sebagai akhir dari cerita. Dalam pementasan teater tradisional, black out biasanya digunakan sebagai tanda ganti adegan diiringi dengan pergantian set.

    5.3 TATA RIAS

    Tata rias secara umum dapat diartikan sebagai seni mengubah penampilan wajah menjadi lebih sempurna. Tata rias dalam teater mempunyai arti lebih spesifik, yaitu seni mengubah wajah untuk menggambarkan karakter tokoh. Tata Rias dalam teater bermula dari pemakaian kedok atau topeng untuk menggambarkan karakter tokoh. Contohnya, teater Yunani yang memakai topeng lebih besar dari wajah pemain dengan garis tegas agar ekspresinya dapat dilihat oleh penonton. Beberapa teater primitif menggunakan bedak tebal yang biasa dibuat dari bahan-bahan alam, seperti tanah,tulang, tumbuhan, dan lemak binatang. Pemakaian tata rias akhirnya menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari peristiwa teater.

    5.3.1 Fungsi Tata Rias

    Tokoh dalam teater memiliki karakter berbeda-beda. Penampilan tokoh yang berbeda-beda membutuhkan penampilan yang berbeda sesuai karakternya. Tata rias merupakan salah satu cara menampilkan karakter tokoh yang berbeda-beda tersebut. Tata rias dalam teater memiliki fungsi sebagai berikut.
    • Menyempurnakan penampilan wajah
    • Menggambarkan karakter tokoh
    • Memberi efek gerak pada ekspresi pemain
    • Menegaskan dan menghasilkan garis-garis wajah sesuai dengan tokoh
    • Menambah aspek dramatik.

    5.3.1.1 Menyempurnakan Penampilan Wajah

    Wajah seorang pemain memiliki kekurangan yang bisa disempurnakan dengan mengaplikasikan tata rias. Seorang pemain, misalnya, memiliki hidung yang kurang mancung, mata yang tidak ekspresif, bibir yang kurang tegas, dan sebagainya. Tata rias bisa menyempurnakan kekurangan tersebut sehingga muncul kesan hidung tampak mancung, mata menjadi lebih ekspresif, dan bibir bergaris tegas. Penyempurnaan wajah dilakukan pada pemain yang secara fisik telah sesuai dengan tokoh yang dimainkan. Misalnya, seorang remaja memerankan siswa sekolah. Tata rias tidak perlu mengubah usia, tetapi cukup menyempurnakan dengan mengoreksi kekurangan yang ada untuk disempurnakan. Pemain yang tidak menggunakan rias, wajahnya akan tampak datar, tidak memiliki dimensi.

    5.3.1.2 Menggambarkan Karakter Tokoh

    Karakter berarti watak. Tata rias berfungsi melukiskan watak tokoh dengan mengubah wajah pemeran menyangkut aspek umur, ras, bentuk wajah dan tubuh. Karakter wajah merupakan cermin psikologis dan latar sosial tokoh yang hadir secara nyata. Misalnya, seorang yang optimis digambarkan dengan tarikan sudut mata cenderung ke atas.
    Sebaliknya, tokoh yang pesimistis cenderung memiliki karakter garis mata yang menurun. Tata rias memiliki kemampuan dalam mengubah sekaligus menampilkan karakter yang berbeda dari seorang pemeran.

    5.3.1.3 Memberi Efek Gerak Pada Ekspresi Pemain

    Wajah seorang pemain di atas pentas, tampak datar ketika tertimpa cahaya lampu. Oleh karena itu dibutuhkan tata rias untuk menampilkan dimensi wajah pemain. Tata rias berfungsi menegaskan garis-garis wajah karakter, sehingga saat berekspresi muncul efek gerak yang tegas dan dapat ditangkap oleh penonton. Seorang penata rias harus mencermati gerak ekspresi wajah untuk menentukan garis yang akan dibuat.

    5.3.1.4 Menghadirkan Garis Wajah Sesuai Dengan Tokoh

    Menampilkan wajah sesuai dengan tokoh membutuhkan garis baru yang membentuk wajah baru. Fungsi garis tidak sekedar menegaskan, tetapi juga menambahkan sehingga terbentuk tampilan yang berbeda dengan wajah asli pemain. Misalnya, seorang remaja yang memerankan seorang yang telah berumur 50 tahun. Wajah perlu ditambahkan garis-garis kerutan sesuai wajah seorang yang berusia 50 tahun. Seorang yang berperan menjadi tokoh binatang, maka perlu membuat garis-garis baru sesuai dengan karakter wajah binatang yang diperankan.

    5.3.1.5 Menambah Aspek Dramatik

    Peristiwa teater selalu tumbuh dan berkembang. Tokoh-tokoh mengalami berbagai peristiwa sehingga terjadi perubahan dan penambahan tata rias. Misalnya, seorang tokoh tertusuk belati, tertembak, tersayat wajahnya, maka dibutuhkan tata rias yang memberikan efek sesuai dengan kebutuhan. Tata rias bisa memberikan efek dramatik dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dengan menciptakan efek tertentu sesuai dengan kebutuhan.

    5.3.2 Jenis Tata Rias

    5.3.2.1 Tata Rias Korektif

    Tata rias korektif (corective make-up) merupakan suatu bentuk tata rias yang bersifat menyempurnakan (koreksi). Tata rias ini menyembunyikan kekurangan-kekurangan yang ada pada wajah dan menonjolkan hal-hal yang menarik dari wajah. Setiap wajah memiliki kekuarangan dan kelebihan. Seseorang yang memiliki bentuk wajah kurang sempurna, misalnya dahi terlalu lebar, hidung kurang mancung dan sebagainya,dapat disempurnakan dengan make up korektif. Seorang pemain membutuhkan tata rias korektif ketika tampilannya tidak membutuhkan perubahan usia, ras, dan perubahan bentuk wajah. Biasanya pemeran memiliki kesesuaian dengan tokoh yang diperankan. Wajah pemain cukup disempurnakan dengan menyamarkan, menegaskan, dan menonjolkan bagian-bagian wajah sesuai dengan tokoh yang dimainkan.

    5.3.2.2 Tata Rias Fantasi

    Tata rias fantasi dikenal juga dengan istilah tata rias karakter khusus. Disebut tata rias karakter khusus, karena menampilkan wujud rekaan dengan mengubah wajah tidak realistik. Tata rias fantasi menggambarkan tokoh-tokoh yang tidak riil keberadaannya dan lahir berdasarkan daya khayal semata.

    5.3.2.3 Tata Rias karakter

    Tata rias karaker adalah tata rias yang mengubah penampilan wajah seseorang dalam hal umur, watak, bangsa, sifat, dan ciri-ciri khusus yang melekat pada tokoh. Tata rias karakter dibutuhkan ketika karakter wajah pemeran tidak sesuai dengan karakter tokoh. Tata rias karakter tidak sekedar menyempurnakan, tetapi mengubah tampilan wajah. Contohnya, mengubah umur pemeran dari muda menjadi lebih tua . Mengubah anatomi wajah pemain untuk memenuhi tuntutan tokoh dapat juga digolongkan sebagai tata rias karakter, misalnya memanjangkan telinga. Tokoh tersebut memiliki latar Suku Dayak Kalimantan yang memiliki tradisi memanjangkan telinga.

    5.4 TATA BUSANA

    Tata busana adalah seni pakaian dan segala perlengkapan yang menyertai untuk menggambarkan tokoh. Tata busana termasuk segala asesoris seperti topi, sepatu, syal, kalung, gelang , dan segala unsur yang melekat pada pakaian. Tata busana dalam teater memiliki peranan penting untuk menggambarkan tokoh. Pada era teater primitif, busana yang dipakai berasal dari bahan-bahan alami, seperti tumbuhan, kulit binatang, dan batu-batuan untuk asesoris. Ketika manusia menemukan tekstil dengan teknologi pengolahan yang tinggi, maka busana berkembang menjadi lebih baik.
    Tata busana dapat dibuat berdasar budaya atau jaman tertentu. Untuk membuat tata busana sesuai dengan adat dan kebudayaan daerah tertentu maka diperlukan referensi khusus berkaitan dengan adat dan kebudayaan tersebut. Jenis busana ini tidak bisa disamakan antara daerah satu dengan daerah lain. Masing-masing memiliki ciri khasnya. Sementara itu tata busana menurut jamannya bisa digeneralisasi. Artinya, busana pada jaman atau dekade tertentu memiliki ciri yang sama.
    Tidak ada periode tata busana secara khusus di teater, karena semua tergantung latar cerita yang ditampilkan. Periode busana teater dengan demikian mengikuti periode teater tersebut. Misalnya, dalam teater Romawi Kuno maka lakon yang ditampilkan berlatar jaman tersebut sehingga busananya pun seperti busana keseharian penduduk jaman Romawi Kuno. Demikian juga dengan teater pada jaman Yunani, Abad Pertengahan, Renaissance, Elizabethan, Restorasi, dan Abad 18.
    Busana teater mengalami perkembangan pesat seiring lahirnya teater modern pada akhir abad 19. Dalam masa ini, beragam aliran teater bermunculan. Masing-masing memiliki kospenya tersendiri dan lakon tidak harus berlatar jaman dimana lakon itu dibuat. Semua terserah pada gagasan seniman. Busana pun mengikuti konsep tersebut. Tata busana dengan demikian sudah tidak lagi terpaku pada jaman, tetapi lebih pada konsep yang melatarbelakangi penciptaan teater.

    5.4.1 Fungsi Tata Busana

    Busana yang dipakai manusia beraneka ragam bentuk dan fungsinya. Fungsi busana dalam kehidupan sehari-hari untuk melindungi tubuh, mencitrakan kesopanan, dan memenuhi hasrat manusia akan keindahan. Busana dalam teater memiliki fungsi yang lebih kompleks, yaitu.
    • Mencitrakan keindahan penampilan
    • Membedakan satu pemain dengan pemain yang lain
    • Menggambarkan karakter tokoh
    • Memberikan efek gerak pemain
    • Memberikan efek dramatik

    5.4.1.1 Mencitrakan Keindahan Penampilan

    Manusia memiliki hasrat untuk mengungkapkan rasa keindahan dalam berbagai aspek kehidupan. Tata busana dalam teater berfungsi sebagai bentuk ekspresi untuk tampil lebih indah dari penampilan seharihari.
    Pementasan teater adalah suatu tontonan yang mengandung aspek keindahan. Pada era teater primitif, hasrat untuk tampil berbeda dan lebih indah dari tampilan sehari-hari telah muncul. Busana pementesan teater dibuat secara khusus dan dilengkapi dengan asesoris sesuai kebutuhan pemensan. Teater di Inggris pada masa pemerintahan Ratu Elizabeth (1580 – 1640), memakai busana sehari-hari yang dibuat lebih indah dengan mengaplikasikan perhiasan dan penambahan bahanbahan yang mahal dan mewah.

    5.4.1.2 Membedakan Satu Pemain Dengan Pemain Yang Lain

    Pementasan teater menampilkan tokoh yang bermacam-macam karakter dan latar belakang sosialnya. Penonton membutuhkan suatu penampilan yang berbeda-beda antara satu tokoh dengan tokoh yang lain. Busana menjadi salah satu tanda penting untuk membedakan satu tokoh dengan tokoh yang lain. Penampilan busana yang berbeda akan menunjukkan ciri khusus seorang tokoh, sehingga penonton mampu mengidentifikasikan tokoh dengan mudah

    5.4.1.3 Menggambarkan Karakter Tokoh

    Fungsi penting busana dalam teater adalah untuk menggambarkan karakter tokoh. Perbedaan karakter dalam busana dapat ditampilkan melalui model, bentuk, warna, motif, dan garis
    yang diciptakan. Melalui busana, penonton terbantu dalam menangkap karakter yang berbeda dari setiap tokoh. Contohnya, tokoh seorang pelajar yang pendiam, rajin, dan alim, busananya cenderung rapi, sederhana, dan tanpa asesoris yang berlebihan. Sebaliknya, tokoh seorang pelajar yang bandel, brutal, dan sering membuat onar, busananya dilengkapi asesoris dan cara pemakaiannya seenaknya tidak sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan sekolah.

    SENI TEATER


    By nyoman aries 32 - Posted on 14 November 2009
    Sejarah panjang seni teater dipercayai keberadaannya sejak manusia
    mulai melakukan interaksi satu sama lain. Interaksi itu juga
    berlangsung bersamaan dengan tafsiran-tafsiran terhadap alam
    semesta. Dengan demikian, pemaknaan-pemaknaan teater tidak jauh
    berada dalam hubungan interaksi dan tafsiran-tafsiran antara manusia
    dan alam semesta. Selain itu, sejarah seni teater pun diyakini berasal
    dari usaha-usaha perburuan manusia primitif dalam mempertahankan
    kehidupan mereka. Pada perburuan ini, mereka menirukan perilaku
    binatang buruannya. Setelah selesai melakukan perburuan, mereka
    mengadakan ritual atau upacara-upacara sebagai bentuk “rasa syukur”
    mereka, dan “penghormatan” terhadap Sang Pencipta semesta. Ada
    juga yang menyebutkan sejarah teater dimulai dari Mesir pada 4000
    SM dengan upacara pemujaan dewa Dionisus. Tata cara upacara ini
    kemudian dibakukan serta difestivalkan pada suatu tempat untuk
    dipertunjukkan serta dihadiri oleh manusia yang lain.
    The Theatre berasal dari kata Yunani Kuno, Theatron yang
    berarti seeing place atau tempat menyaksikan atau tempat dimana
    aktor mementaskan lakon dan orang-orang menontonnya. Sedangkan
    istilah teater atau dalam bahasa Inggrisnya theatre mengacu kepada
    aktivitas melakukan kegiatan dalam seni pertunjukan, kelompok yang
    melakukan kegiatan itu dan seni pertunjukan itu sendiri. Namun
    demikian, teater selalu dikaitkan dengan kata drama yang berasal dari
    kata Yunani Kuno, Draomai yang berarti bertindak atau berbuat dan
    Drame yang berasal dari kata Perancis yang diambil oleh Diderot dan
    Beaumarchaid untuk menjelaskan lakon-lakon mereka tentang
    kehidupan kelas menengah atau dalam istilah yang lebih ketat berarti
    lakon serius yang menggarap satu masalah yang punya arti penting
    tapi tidak bertujuan mengagungkan tragika. Kata drama juga dianggap
    telah ada sejak era Mesir Kuno (4000-1580 SM), sebelum era Yunani
    Kuno (800-277 SM). Hubungan kata teater dan drama bersandingan
    sedemikian erat seiring dengan perlakuan terhadap teater yang
    mempergunakan drama ’lebih identik sebagai teks atau naskah atau
    lakon atau karya sastra.
    Terlepas dari sejarah dan asal kata yang melatarbelakanginya,
    seni teater merupakan suatu karya seni yang rumit dan kompleks,
    sehingga sering disebut dengan collective art atau synthetic art artinya
    teater merupakan sintesa dari berbagai disiplin seni yang melibatkan
    berbagai macam keahlian dan keterampilan. Seni teater
    menggabungkan unsur-unsur audio, visual, dan kinestetik (gerak) yang
    meliputi bunyi, suara, musik, gerak serta seni rupa. Seni teater
    merupakan suatu kesatuan seni yang diciptakan oleh penulis lakon,
    sutradara, pemain (pemeran), penata artistik, pekerja teknik, dan
    diproduksi oleh sekelompok orang produksi. Sebagai seni kolektif, seni
    teater dilakukan bersama-sama yang mengharuskan semuanya
    sejalan dan seirama serta perlu harmonisasi dari keseluruhan tim.
    Pertunjukan ini merupakan proses seseorang atau sekelompok
    manusia dalam rangka mencapai tujuan artistik secara bersama.
    Dalam proses produksi artistik ini, ada sekelompok orang yang
    mengkoordinasikan kegiatan (tim produksi). Kelompok ini yang
    menggerakkan dan menyediakan fasilitas, teknik penggarapan, latihanlatihan,
    dan alat-alat guna pencapaian ekspresi bersama. Hasil dari
    proses ini dapat dinikmati oleh penyelenggara dan penonton. Bagi
    xv
    penyelenggara, hasil dari proses tersebut merupakan suatu kepuasan
    tersendiri, sebagai ekspresi estetis, pengembangan profesi dan
    penyaluran kreativitas, sedangkan bagi penonton, diharapkan dapat
    diperoleh pengalaman batin atau perasaan atau juga bisa sebagai
    media pembelajaran.
    Melihat permasalahan di dalam teater yang begitu kompleks,
    maka penulis mencoba membuat sebuah paparan pengetahuan teater
    dari berbagai unsur. Paparan ini dimulai dari Bab I Pengetahuan
    Teater yang berisi tentang definisi teater baik secara keseluruhan
    maupun secara detail, sejarah singkat perkembangan teater baik
    sejarah singkat teater Eropa maupun sejarah singkat teater Indonesia,
    dan unsur-unsur pembentuk teater. Bab ini sangat penting karena
    untuk mendasari pemikiran dan pengetahuan tentang seni teater.
    Bab II Lakon yang berisi tentang tipe-tipe lakon, tema, plot,
    struktur dramatik lakon, setting, dan penokohan. Dalam bab ini
    pembahasan lebih banyak pada analisis elemen lakon sebagai
    persiapan produksi seni teater. Sesederhana apa pun sebuah naskah
    lakon, diperlukan sebagai pedoman pengembangan laku di atas
    pentas. Pemilihan lakon yang akan disajikan dalam pementasan
    merupakan tugas yang sangat penting. Tidak sembarang lakon akan
    sesuai dan baik jika dipentaskan. Sulitnya tugas ini disebabkan oleh
    karena setiap kelompok teater memiliki ciri khas masing-masing.
    Sebuah lakon yang dipentaskan dengan baik oleh satu kelompok
    teater, belum tentu akan menjadi baik pula jika dipentaskan oleh
    kelompok lainnya.
    Bab III Penyutradaraan yang berisi tentang penentuan lakon
    yang akan dipentaskan, analisis lakon secara menyeluruh hingga
    sampai tahap konsep pementasan, menentukan bentuk pementasan,
    memilih pemain, membuat rancangan blocking, serta latihan-latihan
    hingga gladi bersih. Kerja penyutradaan dalam sebuah pementasan
    merupakan kerja perancangan. Seorang sutradara harus bisa memberi
    motivasi dan semangat kebersamaan dalam kelompok untuk
    menyatukan visi dan misi pementasan antar mereka yang terlibat.
    Kerja penyutradaraan merupakan kegiatan perancangan panggung
    dapat berupa penciptaan estetika panggung maupun ekspresi
    eksperimental.
    Bab IV Pemeranan yang berisi tentang persiapan seorang
    pemeran dalam sebuah pementasan seni teater. Persiapan tersebut
    meliputi persiapan olah tubuh, olah suara, penghayatan karakter serta
    teknik-teknik pemeranan. Persiapan seorang pemeran dianggap
    penting karena pemeran adalah seorang seniman yang
    mengekspresikan dirinya sesuai dengan tuntutan baru dan harus
    memiliki kemampuan untuk menjadi ’orang baru’. Pemeran
    didefinisikan pula sebagai tulang punggung pementasan, karena
    dengan pemeran yang baik, tepat, dan berpengalaman akan
    menghasilkan pementasan yang bermutu. Pementasan bermutu
    adalah pementasan yang secara ideal mampu menterjemahkan isi
    naskah. Walaupun di lain pihak masih ada sutradara yang akan melatih
    dan mengarahkan pemeran sebelum pentas, tetapi setelah di atas
    panggung tanggungjawab itu sepenuhnya milik pemeran.
    Bab V Tata Artistik yang berisi tentang teori dan praktek tata
    artistik yang meliputi; tata rias, tata busana, tata cahaya, tata
    panggung, dan tata suara. Sebagai komponen pendukung pokok,
    xvi
    keberadaan tata artistik dalam pementasan teater sangatlah vital.
    Tanpa pengetahuan dasar artistik seorang sutradara atau pemain
    teater tidak akan mampu menampilkan kemampuannya dengan baik.
    Persesuaian dengan tata artistik yang menghasilkan wujud nyata
    keindahan tampilan di atas pentas adalah pilihan wajib bagi para
    pelaku seni teater.
    Bahasan yang penulis pilih dalam setiap bab merupakan
    pengetahuan dan praktek mendasar proses penciptaan seni teater.
    Artinya, sebuah pertunjukan teater yang berlangsung di atas panggung
    membutuhkan proses garap yang lama mulai dari (penentuan) lakon,
    penyutradaraan, pemeranan, dan proses penataan artistik. Dalam
    setiap tahapan proses ini melibatkan banyak orang (pendukung) dari
    berbagai bidang sehingga dengan memahami tugas dan tanggung
    jawab masing-masing maka kerja penciptaan teater akan padu.
    Kualitas kerja setiap bidang akan menjadi harmonis jika masingmasing
    dapat bekerja secara bersama dan bekerja bersama akan
    berhasil dengan baik jika semua elemen memahami tugas dan
    tanggung jawabnya. Itulah inti dari proes penciptaan seni teater, “kerja
    sama”.
    artikel ke 4
    PENGERTIAN SENI TEATER
    Teater adalah istilah lain dari drama, tetapi dalam pengertian yang lebih luas, teater adalah proses pemilihan teks atau naskah (kalau ada) , penafiran, penggarapan, penyajian atau pementasan dan proses pemahaman atau penikmatan dari public atau audience (bisa pembaca, pendengar, penonton, pengamat, kritikus atau peneliti). Proses penjadian drama ke teater disebut prose teater atau disingkat berteater. Teater berasal dari kata theatron yang diturunkan dari kata theaomai(bahasa yunani) yang artinya takjub melihat atau memandang.
    Teater bisa diartikan dengan dua cara yaitu dalam arti sempit dan dalam arti luas.
    Teeater dalam arti sempit adalah sebagai drama (kisah hidup dan kehiudpan manusia yang diceritakan di atas pentas, disaksikan orang banyak dan didasarkan pada naskah yang tertulis.
    Dalam arti luas, teater adalah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak contohnya wayang orang, ketoprak, ludruk dan lain-lain.
    SUMBER : Buku Seni Rupa, Heru Purwanto dkk, Ganexa Exact

    Sumber: http://id.shvoong.com/society-and-news/news-items/2007780-pengertian-seni-teater/#ixzz25ft86dxq
    artikel ke 5

    Pengertian dan Definisi Drama


    Drama merupakan salah satu bentuk karya sastra. Dalam drama, penulis ingin menyampaikan pesan melalui akting dan dialog. Biasanya drama menampilkan  sesuatu hal yang biasa terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Sehingga para penonton diajak untuk seolah-olah ikut menyaksikan dan merasakan kehidupan dan kejadian dalam masyarakat.
    Berikut ini adalah pengertian dan definisi drama:
    # ERWAN JUHARA
    Drama merupakan jenis karya sastra yang dibangun oleh unsur intrinsik, satu kesatuan karya itu membentuk kesatuan (totalitas)
    # PRIYONO MANGUNREJO
    Drama merupakan salah satu karya sastra yang lebih menonjolkan unsur dialog
    # A. ISKAK & YUSTINAH
    Drama adalah karangan yang berbentuk dialog / percakapan antara para pemainnya
    # SRI SUTARNI & SUKARDI
    Drama merupakan cerita tentang kehidupan manusia yang diperankan diatas panggung atau dipentaskan
    # WAHONO & RUSMIYANTO
    Drama adalah suatu karya sastra yang bertujuan menggambarkan kehidupan dengan menampilkan pertikaian / konflik dan emosi lewat adegan dan dialog
    # YAKOB SUMARJO & SAINI
    Drama adalah karya sastra yang mengungkapkan cerita melalui dialog - dialog para tokohnya
    # TIM MATRIX MEDIA LITERATA
    Drama merupakan bentuk kisahan yang menggambarkan kehidupan dan watak manusia melalui tingkah laku (akting) yang dipentaskan
    # SENI HANDAYANI & WILDAN
    Drama adalah bentuk karangan yang berpijak pada dua cabang kesenian, yakni seni sastra dan seni pentas sehingga drama dibagi dua, yaitu drama dalam bentuk naskah tertulis dan drama yang dipentaskan
    # ANNE CIVARDI
    Drama adalah sebuah kisah yang diceritakan lewat kata-kata dan gerakan

    Video drama

    Dalam video ini akan diperlihatkan sebuah contoh drama musikal
    (indahf/Carapedia)


    Pencarian Terbaru (100)
    Pengertian drama. Definisi drama. Pengertian drama menurut para ahli. Pengertian seni drama. Materi drama. Drama adalah. Pengertian surat dinas.
    Konsep drama. Pengertian drama wikipedia. Pengertian drama musikal. Arti drama. Pengertian teater. Pengertian seni teater. Pengertian teater menurut para ahli.
    Makalah drama. Definisi drama menurut para ahli. Makalah tentang drama. Pengertian dialog drama. Makalah seni teater. Defenisi drama. Definisi seni teater.
    Makna drama. Pengertian drama korea. Pengertian adegan. Materi tentang drama. Contoh seni drama. Penjelasan tentang drama. Penjelasan drama.
    Definisi seni drama. Seni musik menurut para ahli. Pengertian tentang drama. Definisi dialog. Artikel seni drama. Pengertian adegan dalam drama. Pengertian sandiwara.
    Pengertian drama radio. Pengertian drama dan unsur unsurnya. Pengertian drama anak. Makalah seni drama. Drama menurut para ahli. Definisi drama korea. Penertian drama.
    Teater menurut para ahli. Devinisi drama. Seni teater. Pengertian sandiwara radio. Pengertian drama sastra. Pengertian dan contoh drama. Drama pengertian.
    Definisi drama musikal. Pengertian derama. Pengertian dari drama. Pengertian drama dan unsur unsur drama. Materi teater. Pegertian drama. Contoh seni teater.
    Contoh makalah seni teater. Unsur unsur drama dan penjelasannya. Definisi teater menurut para ahli. Artikel seni teater. Pengrtian drama. Konsep seni drama. Artikel pengertian naskah drama.
    Contoh makalah tentang drama. Pengertian dialog menurut para ahli. Konsep drama musikal. Pengertiandrama. Pengertian unsur unsur drama. Pengertian drama prosa. Pengertian drama adalah.
    Pengertian unsur drama. Makalah b.indonesia. Arti drama musikal. Pengartian drama. Pengertian kostum drama. Definisi adegan. Drama merupakan.
    Pengertia drama. Konsep teater. Makalah tentang seni teater. Pengertian dan unsur unsur drama. Pengertian properti dalam drama. Pengertian drama menurut ahli. Penegrtian drama.
    Definisi drama wikipedia. Pengetian drama. Definisi sandiwara radio. Pengerian drama. Pngertian drama. Properti drama. Pengertian unsur intrinsik drama.
    Konsep seni teater. Pengertian drama beserta contohnya. Pengertian drma. Seni drama adalah. Pengertian naskah drama menurut para ahli. Arti dari drama. Unsur unsur drama dan pengertiannya.
    Artikel tentang seni drama. Apa pengertian drama. 

    1. Teater Nusantara Berdasarkan Wilayah atau Daerahnya.
    >Teater Nusantara berdasarkan wilayah atau daerah dibedakan menjadi berikut ini :
    A. Teater Sumatra
    Teater dari daerah Sumatra Meliputi Teater Bangsawan , Makyong, Randai, dan bakaba.
    1) Bangsawan 
    Teater Bangsawan Merupakan teater tradisional dari pulau Sumatra dengan latar belakang budaya Melayu. Teater ini banyak menyerap teknik teater Bara.  Hal ini dapat dilihat pada pertunjukan nya yang selalu menggunakan panggung meskipun di saat pementasan dilakukan di ruang terbuka.  
    Teater Bangsawan untuk pertama kalinya diperkenalkan di Malaya pada tahun 1870 oleh perkumpulan teater India yang dinamakan wayang persi. Kemudian menyebar dan masuk ke indonesia dan disebut bangsawan karena lakon semula mengenai sebuahkeluara ningrat. Ciri khas Bangsawan adalah cara pementasannya. Penyajiannya dalam bentuk dialog menggunakan pantun empat bait, syairnya dinyanyikan oleh pemain.
    2) Makyong 
    Makyong merupakan teater yang berasal dari Riau. Lakon Makyong menggambarkan perjuangan seorang putra mahkota dalam mencapai cita-citanya serta bertahan dari kerasnya kehidupan. Di dalam penyajiannya , Makyong menggunakan tari dan lagu untuk menyampaikan maksud tertentu. Pementasanya biasanya dalam bentuk komedi atau melodrama. Makyong bisa dipentaskan pada siang atau malam hari di ruang ruang terbuka.
    iringan musiknya terdiri atas gendang,seruai,rebab,gong,dan mong mong (gong kecil). Semua pemain menggunakan topeng dan hampir semuanya perempuan kecuali peran pelawak ( tokoh Awang dan temanya)
    3) Randai
    Randai merupakan teater dari sumatra barat dan mendapat pengaruh dari basijobang,tonilBelanda,dan Komidi bangsawan. Terbentuknya teater Randai dimulai dari sebuah kelompok Komidi bangsawan yang pada tahun 1932 memutuskan untuk menyempurnakan basijobang dengan unsur tonil belanda serta seni pencak silat setempat.
    4) Bakaba
    Bakaba merupakan teater yang berasal dari sumatra barat. Teater ini dituturkan oleh tukang kaba dalam bentuk prosa liris yang didendangkan (dilagukan)  dengan diiringi alunan musik rebah atau kecapi,saluang (suling) , dan adog9rebana). Untuk menggelar kaba sekurang kurangnya harus ada dua tukang kaba ,seorang penyanyi yang berserita,dan seorang lagi sebagai pengiring musik. Kaba biasanya dipentaskan sebagai bagian dari upacara perkawinan,menempati rumah baru,panen , dan sebagainya.Waktu pementasan terjadi interaksi dengan penonton.

    B Teater Jawa Barat
    Teater Jawa Barat, Meliputi teater Ubrug dan Longer.
    1) Ubrug
    Teater Ubrug berasal dari Banten. Dalam penyaiannya,teater ini menggunakan iringan gamelan slendro dan gong gubyung. Lakon yang dimainkan bersumber dari kehidupan sehari hari . Lakon yang sering dimainkan,antara lain Di Jampang, Si Pitung, Sakam,Dalam Bonceng, dan Jejaka Pancak.
    2) Longer
    >Teater Longer Berasal dari sumedang. Teater inimuncul pada tahun 1939. Di dalam pementasanynya, teater Longer menampilkan adegan humor (lawakan),Drama (sandiwara),dan tarian rakyat (tari silat).
    C. Teater Jakarta
    teater jakarta ( teater dari jakarta), antara lain teater Lenong dan Topeng betawi
    1) Lenong
    teater Lenong merupakan teater populer dari Jakarta. Dalam Pertunjukan nya terdapat unsur cerita (drama),tari,nyanyi,dan pencak silat. Panggung dalam tatanan modern sudahh diterapkan seperti penggunaan properti kursi dan meja. Lakon atau ceritanya bersumber dri kehidupan masyarakat setempat. Terdapat dua jenis Lenong,yaitu Lenong Dines dan Lenong Preman.

    2) Topeng Betawi
    Dalam pementasanya,Topeng betawi pada umumnya diawali dengan tarian yang dibawakan oleh penari perempuan. Dilanjutkan dengan dialog dialog lucu (lawakan) oleh pelawak dan penari. Kemudian,lakon/ceritanya disajikan. Cerita dalam topeng betawi bersumber dari  kehidupan masyarakat setempat

    D. Teater Jawa Tengah
    Teater dari Jawa tengah meliputi Teater wayang wong,ketoprak,dan langendriyan.
    1) Wayang Wong (wayang orang)
    Di Jawa tengah, Wayang Wong sudah ada sejak abad ke -12. Akan tetapi, wayang wong yang ada sekarang ini merupakan ciptaan dari hamengkubuwono 1 dari yogyakarta atau Mangkunegara 1 dari surakarta. Wayang wong panggung Surakarta yang terkenal dibuat atas perintah Pakubuwono X untuk dipentaskan setiap malam di taman hiburan Sriwedari.
    2) Ketoprak
    Pada mulanya, Ketoprak hanya merupakan permainan klotekan dan berkembang dengan memasukan adegan drama sederhana. Ceritanya diambil dari lingkungan setempat dan disajikan dalam bentuk lawakan (humor) dan dikenal dengan ketoprak Lesung. Sejak tahun 1927 , pementasan ketoprak menggunakan gamelan sebagai musik pengiringnya.
    3) Langendriyan
    Langendriyan mengambil lakon Damarwulan. Langendriyan di dalam pementasanya diirngi oelh gamelan dan dialog dialognya menggunakan tembangjawa. Pada tahun 1970-an dan tahun 1980-an penata tari koreografer Sardono W.Kusumo,Retno Maruti,dan Sal Murgiyanto memadukan antara Bedaya,langendriyan,dan Wayang wong untuk menciptakan bentuk yang disebut Langen Beksa.

    E. Teater Jawa Timur
    Teater dari Jawa timur yang paling populer adalah Ludruk. Ludruk merupakan perubahan dari teater tradisional Lerok Berutan. Lakon dalam ludurk adalah kehidupan masyarakat sehari hari. Ludruk dalam pementasannya dibuka dengan tarian Remo.
    F. Teater Bali
    Teater dari daerah Bali, diantaranya Cak dan Drama Gong.

    1) Cak 
    Cak sudah ada sejak  zaman para-Hindu tetapi mulai menjadi suatu pertunjukan sejak tahun 1935, di Desa Bendulu. Dengan dukungan dari dua seniman asal Eropa, Cak berkembang menjadi pertunjukan hiburan. Lakon Ramayana dimasukan dalam pertunjukan Cak. Sejak tahun 1969, lakon tunggal diperluas menjadi epos utuh.
    2) Drama Gong 
    Drama Gong Adalah teater tradisional Bali yang merupakan drama lisan yang diiringi gamelan gong. Drama Gong menjadi salah satu seni pertunjukan yang memadukan drama Bali tradisional dan drama modern (budaya barat). Drama gong ini memiliki kemiripan dengan ketoprak jawa. Drama Gong,muncul pertama kali pada tahun 1966. Penciptanya adalah Anak Agung Dede Raka Payadnya. Drama Gong menggabungkan unsur pertunjukan dan teknik berbagai bentuk seni pertunjukan tradisional seperti gong kebyar,drama tari arja,sendratari Bali modern dengan unsur drama modern ( Barat ).
    G. Teater Sulawesi
    Teater yang berasal dari sulawesi contohnya Sinrilli. Teater ini berasal dari sulawesi selatan.  Sinrillimerupakan pertunjukan cerita tutur oleh seorang pasinrilli dengan diiringi musik keso-keso (rebab). Penceritanya berupa nada lagu (kelong) yang diiringi lengkingan Keso-Keso sehingga membangunkan berbagai suasana haru,indah,dan humor. Sinrilli bermula dari dalam istana raja-raja Gowa. Setelah kejatuhan kerajaan Gowa ke tangan VOC, Sinrilli menyebar di kalngan rakyat. Pertunjukan sinrilli dilakukan di sian ataudi malam hari sesudah sembahyang isya. Teater ini digelar di anjungan rumah atau tempat terbuka (halaman) pada waktu waktu tertentu, seperti waktu syukuran,pesta kawin,membangun rumah,dan sebagainya.
    H. Teater Nusa tenggara barat
    Teater dari NTB contohnya Cepung. Teater ini berasal dari lombok. Cepung merupakan teater tutur. Penamaan Cepunf berawal dari iringan suara gamelan dari mulut yang berbunyi ",cek,cek,cek,cek,pung". Cepung adalah seni membaca kitab lontar, khususnya cerita Monyeh,yang diiringi oleh iringan bunyi suling dan redeb serta peniruan suara suara  instrumen gamelan yang lain. pemain pemain cepung ada 6 orang,terdiri atas pembca lontar ,seorang pemain redeb,seorang pemain suling, dan tiga orang sebagai penembang. 
    Mereka duduk berjajar setengah lingkaran. Musik,tari,mimik,dan lawak merupakan unsur unsur yang selalu ada. Memakai sesaji berupa ayam,tuak,kembang ,beras,yang kepeng,benang,dan sirih pinang.
    2. Jenis Teater Nusantara Berdasarkan Perkembangannya 
    Jenis teater nusantara berdasarkan perkembangan/sejarahnya, dibedakan menjadi berikut ini.
    A. Teater Tradisional
    Teater tradisional meliputi teater tutur,rakyat,wayang,dan bangsawan.
    1) Teater Tutur
    Teater tutur , yaitu jenis teater yang didasarkan dari sastra lisan yang dituturkan dan belum diperagakan secara lengkap
    2) Teater Rakyat
    Teater rakyat, yairu jenis teater yang berkembang dan hidup di tengan masyarakat pedesaan. cerita cerita yang dipentaskan diambil dari cerita lisan yang bersumber dari cerita cerita rakyat di daerah tersebut.
    3) Teater Wayang
    teater Wayan, yaitu jenis teater dari segala macam jenis wayang,yaitu wayang boneka (wayang kulit,wayang golek) dan wayang orang.
    4) Teater Bangsawan
    teater Bangsawan, Yaitu jenis teater yang telah mendapat pengaruh dari teater Barat. Teater ini Ditunjang oleh kebudayaan melayu serta dipengaruhi pula oelh teater Timur Tengah. Cerita bersumber dari cerita seribu satu malam seperti Aladin dan cerita Barat seperti Hamlet.
    B. Teater Nontradisional
    Teater nontradisional Terdiri atas teater konvensional dan teater kontemporer.
    1) Teater Konvensional
    Teater Konvensional , yaitu jenis teater yang berdasarkan pada lakon drama yang disajiikan secara konvensioanl. Teatr ini sering disebut sandiwara.
    2) Teater Kontemporer
    Teater kontemporer, yaitu yang mendobrak konvensi konvensi lama dan ditandai dengan pembaruan melalui gagasan.ide baru, penyajian baru,dan penggabungan konsep Timur dan Barat.
    3. Jenis Teater Nusantara Berdasarkan Cara Penyajiannya
    Berdasarkan cara penyajiannya , Teater nusantara dibagi menjadi empat jenis,yaitu sebagai berikut :
    A. Teater Tutur
    Teater Tutur merupakan teater yang penyajiannya dilakukan dengan cara menceritakan kembali, baik dengan cerita biasa maupun dengan nyanyian yang diiringi dengan alat musik (tetabuhan). Contohnya Bakaba (sumatra barat),srinkilli (sulawesi selatan), dan Kentrung (jawa tengah dan Jawa timur).
    B. Teater Catur
    Teater Catur merupakan teater yang berbentuk teater yang bentuk penyajiannya mengkhususkan pada dialog. Teater ini hanya dapat dinikmati dengan mendengarkan. Contohnya sandiwara radio.
    C. Teater Boneka
    Teater Boneka merupakan teater yang bentuk penyajiannya dimainkan oleh boneka yang terbuat dari kulit atau kayu. Cara memainkannya melalui seorang dalang.  Contoh : wayang kulit dan Wayang golek.
    D. Teater Langsung
    Teater Langsung merupakan teater yang bentuk penyajiannya dilakukan pada suatu tempat (panggung)Para pemainya menggunakan berbagai unsur bahasa untuk mengungkapkan gagasanya , yaitu dialog,akting,menyanyi dan menari.
    E. Teatronik
    Teatronik adalah teater yang bentuk penyajianya menggunakan media elektronik. 
    Sekian Artikel dari saya tentang Jenis Jenis Teater Nusantara  Artikel yang di ambil dari buku dan ditulis secara Ringkas . Silahkan kunjungi artikel Seni budaya menarik lainya di sini : Seni Budaya kelas 8 . Terimakasih Semoga bermanfaat


    Jenis Teater

    1.  Teater Boneka 
    Pertunjukan boneka telah dilakukan sejak Zaman Kuno. Sisa peninggalannya ditemukan di makam-makam India Kuno, Mesir, dan Yunani. Boneka sering dipakai untuk menceritakan legenda atau kisah-kisah religius. Berbagai jenis boneka dimainkan dengan cara yang berbeda. Boneka tangan dipakai di tangan sementara boneka tongkat digerakkan dengan tongkat yang dipegang dari bawah. Marionette, atau boneka tali,  digerakkan dengan cara menggerakkan kayu silang tempat tali boneka diikatkan.
    Dalam pertunjukan wayang kulit, wayang dimainkan di belakang layar tipis dan sinar lampu menciptakan bayangan wayang di layar. Penonton wanita duduk di depan layar, menonton bayangan tersebut. Penonton pria duduk di belakang layar dan menonton wayang secara langsung.
    Jenis Teater
    Gambar Pementasan teater boneka di Jepang
    Boneka Bunraku dari Jepang mampu melakukan banyak sekali gerakan sehingga diperlukan tiga dalang untuk menggerakkannya. Dalang berpakaian hitam dan duduk persis di depan penonton. Dalang utama mengendalikan kepala dan lengan kanan. Para pencerita bernyanyi dan melantunkan kisahnya.  
    2. Drama Musikal 
    Merupakan pertunjukan teater yang menggabungkan seni menyanyi, menari, dan akting. Drama musikal mengedepankan unsur musik, nyanyi, dan gerak daripada dialog para pemainnya. Di panggung Broadway jenis pertunjukan ini sangat terkenal dan biasa disebut dengan pertunjukan kabaret. Kemampuan aktor tidak hanya pada penghayatan karakter melalui baris kalimat yang diucapkan tetapi juga melalui lagu dan gerak tari. Disebut drama musikal karena memang latar belakangnya adalah karya musik yang bercerita seperti The Cats karya Andrew Lloyd Webber yang fenomenal. Dari karya musik bercerita tersebut kemudian dikombinasi dengan gerak tari, alunan lagu, dan tata pentas.
    Jenis Teater
    Gambar Pementasan drama musikal
    Selain kabaret, opera dapat digolongkan dalam drama musikal. Dalam opera dialog para tokoh dinyanyikan dengan iringan musik orkestra dan lagu yang dinyanyikan disebut seriosa. Di sinilah letak perbedaan dasar antara Kabaret dan opera. Dalam drama musikal kabaret, jenis musik dan lagu bisa saja bebas tetapi dalam opera biasanya adalah musik simponi (orkestra) dan seriosa. Tokoh-tokoh utama opera menyanyi untuk menceritakan kisah dan perasaan mereka kepada penonton. Biasanya juga berupa paduan suara. Opera bermula di Italia pada awal tahun 1600-an. Opera dipentaskan di gedung opera. Di dalam gedung opera, para musisi duduk di area yang disebut orchestra  pit di bawah dan di depan panggung.  
    3. Teater Gerak 
    Teater gerak merupakan pertunjukan teater yang unsur utamanya adalah gerak dan ekspresi wajah serta tubuh pemainnya. Penggunaan dialog sangat dibatasi atau bahkan dihilangkan seperti dalam pertunjukan pantomim klasik. Teater gerak, tidak dapat diketahui dengan pasti kelahirannya tetapi ekspresi bebas seniman teater terutama dalam hal gerak menemui puncaknya dalam masa  commedia del’Arte di Italia. Dalam masa ini pemain teater dapat bebas bergerak sesuka hati (untuk karakter tertentu) bahkan lepas dari karakter tokoh dasarnya untuk memancing perhatian penonton. Dari kebebasan ekspresi gerak inilah gagasan mementaskan pertunjukan dengan berbasis gerak secara mandiri muncul.
    Jenis Teater
    Gambar Pertunjukan teater gerak
    Teater gerak yang paling populer dan bertahan sampai saat ini adalah pantomim. Sebagai pertunjukan yang sunyi (karena tidak menggunakan suara), pantomim mencoba mengungkapkan ekspresinya melalui tingkah polah gerak dan mimik para pemainnya. Makna pesan sebuah lakon yang hendak disampaikan semua ditampilkan dalam bentuk gerak. Tokoh pantomim yang terkenal adalah Etienne Decroux dan Marcel Marceau, keduanya dari Perancis.  
    4. Teater Dramatik 
    Istilah dramatik digunakan untuk menyebut pertunjukan teater yang berdasar pada dramatika lakon yang dipentaskan. Dalam teater dramatik, perubahan karakter secara psikologis sangat diperhatikan dan situasi cerita serta latar belakang kejadian dibuat sedetil mungkin. Rangkaian cerita dalam teater dramatik mengikuti alur plot dengan ketat. Mencoba menarik minat dan rasa penonton terhadap situasi cerita yang disajikan. Menonjolkan laku aksi pemain dan melengkapinya dengan sensasi sehingga penonton tergugah. Satu peristiwa berkaitan dengan peristiwa lain hingga membentuk keseluruhan lakon. Karakter yang disajikan di atas pentas adalah karakter manusia yang sudah jadi, dalam artian tidak ada lagi proses perkembangan karakter tokoh secara improvisatoris (Richard Fredman, Ian Reade: 1996). Dengan segala konvensi yang ada di dalamnya, teater dramatik mencoba menyajikan cerita seperti halnya kejadian nyata. 
    Gaya pementasan teater dramatik
    Gambar Gaya pementasan teater dramatik 
    5. Teatrikalisasi Puisi 
    Pertunjukan teater yang dibuat berdasarkan karya sastra puisi. Karya puisi yang biasanya hanya dibacakan dicoba untuk diperankan di atas pentas. Karena bahan dasarnya adalah puisi maka teatrikalisasi puisi lebih mengedepankan estetika puitik di atas pentas. Gaya akting para pemain biasanya teatrikal. Tata panggung dan  blocking dirancang sedemikian rupa untuk menegaskan makna puisi yang dimaksud. Teatrikalisasi puisi memberikan wilayah kreatif bagi sang seniman karena mencoba menerjemahkan makna puisi ke dalam tampilan laku aksi dan tata artistik di atas pentas.

    Unsur-unsur dasar yang terdapat dalam seni teater terdiri dari:
    1.    Tema
    Tema adalah pikiran pokok yang mendasari suatu cerita dalam teater. Tema dapat diambii dari berbagai sumber mulai dari masalah percintaan, keluarga, lingkungan alam, penyimpangan sosial dan budaya, sejarah, sampai pada politik dan pemerintahan. Tema dispesifikasikan menjadi sebuah topik dan kemudian topik dikembangkan menjadi sebuah cerita dengan dialog-dialognya. Pada dasarnya nilai-nilai tema ini dapat diambii untuk kehidupan kita sehari-hari. Berikut ini contoh tema, topik, dan judul: Tema : Kehidupan Topik : Penindasan yang keji Judul : Kejamnya hidup
    2.    Plot
    Plot adalah rangkaian peristiwa atau jalannya cerita. Plot terdiri dari konflik yang berkembang secara bertahap. Tahapan perkembangan plot adalah sebagai berikut:
    a.    Eksposisi, yang mengantarkan penonton untuk mengenal tokoh, karakter dan materi kisah.
    Eksposisi/introduksi merupakan pergerakan terhadap konflik melalui dialog-dialog pelaku.
    b.    Konflik, adanya masalah yang melibatkan tokoh- tokoh dalam cerita.
    c.    Komplikasi/intrik, adanya pengembangan masalah yang menyebabkan konflik semakin ruwet dan tegang. Namun belum tercapai jalan pemecahannya.
    d.    Klimaks, merupakan puncak berbagai perkumpulan konflik sehingga menimbulkan ketegangan bagi penonton yang telah mencapai puncaknya dalam cerita.
    e.    Resolusi/konklusi, terjadi penyelesaian konflik, di mana kisah dapat berakhir menyenangkan atau
    berakhir tragis.
    3.    Latar Cerita
    Latar memengaruhi jalannya cerita, bahkan watak tokoh. Pelatar inilah yang membuat sebuah drama mempunyai karakteristik sendiri. Latar berguna untuk mewujudkan penggambaran yang mencerminkan tempatterjadinya cerita yang sedang dipentaskan.
    4.    Penokohan/Perwatakan
    Penokohan/karakter pelaku utama adalah pelukisan karakter/kepribadian pelaku utama. Penokohan erat hubungannya dengan perwatakan. Penokohan berhubungan dengan nama pelaku, jenis kelamin, usia, bentuk fisik, dan kejiwaannya. Perwatakan berhubungan dengan sifat pelaku. Dalam teater penokohan dapat dikelompokkan ke dalam tiga macam, yaitu:
    a.    Tokoh protagonis, yaitu tokoh yang pertama kali mengambil prakarsa dalam cerita. Tokoh
    protagonis adalah tokoh yang pertama mengalami benturan-benturan atau masalah, memiliki sifat
    yang baik sehingga penonton biasanya berempati.
    b.    Tokoh antagonis, yaitu tokoh yang menentang tokoh protagonis atau tokoh yang menentang
    cerita. Tokoh antagonis biasanya memiliki sifat jahat.
    c.    Tokoh tritagonis, yaitu tokoh penengah serta pendamai dua pihak (tokoh protagonis dan tokoh
    antagonis) dan penyelesaian ketegangan.

    B. Jenis-jenis Teater

    Menurut karakteristiknya, jenis-jenis teater yang terdapatdi Nusantara sebagai berikut:
    1.    Teater Tradisional
    Teater tradisional bersifat sederhana dan sangat kental kesan kedaerahannya. Teater tradisional terbagi menjadi tiga, yaitu:
    a.    Teater rakyat, bersifat sederhana, spontan, dan penuh improvisasi. Contoh: ketoprak (Jawa
    Tengah), ludruk(JawaTimur), tarling (Jawa Barat), lenong (Betawi), barong (Bali), randai (Sumatra
    Barat), dan Iain-Iain.
    b.    Teater klasik, bersifat mapan, teratur, jelas ceritanya, pelaku terlatih, dan pada umumnya
    diselenggarakan di gedung. Contoh: wayang orang, wayang kulit, dan wayang golek.
    c.    Teater transisi, sifat dan gunanyasudahdipengaruhi oleh teater Barat. Contoh: komedi stambul,
    sandiwara dardanela, dan sandiwara srimulat.
    Berikut ini akan diuraikan beberapa contoh teater tradisional yang terdapatdi daerah.
    a.    Makyong (Riau)
    Makyong adalah seni teater tradisional tertua dalam kebudayaan Melayu yang memadukan cerita, teori, dan musik. Cerita diambil dari kisah raja-raja dalam hikayat Melayu. Makyong sangat populer di Kepulauan Riau sekitar abad ke-19.
    Teater makyong dipengaruhi kebudayaan Hindu-Buddha-Thailand dan Hindu-Jawa. Nama makyong berasal dari Mak Hyang, nama lain dari Dewi Sri atau dewi padi. Sebagai seni pertunjukan yang sangat tua, makyong tumbuh dan berkembang seiring dengan kebudayaan Melayu. Teater makyong biasanya bercerita mengenal perjuangan seorang pangeran muda mencapai cita-cita. Kesukaran, bencana, dan penderitaan yang dialaminya selalu mendapat bantuan dari Tuhan. Inti cerita adalah perjuangan antara kebaikan dan kejahatan yang dimenangkan oleh kebaikan. Teater makyong menggunakan lagu dan tari untuk menyampaikan arti yang khusus.
    Sebuah pertunjukan makyong diawali dengan ritual buka panggung panggung atau buka tanah oleh seorang pemain pemimpin. Ritual ini untuk mengendalikan hantu yang mengganggu jalannya pertunjukan. Pertunjukan ini digunakan untuk menyebarkan nilai sosial dan keagamaan serta konsep pemerintahan, tetapi sekarang makyong semata-mata untuk hiburan.
    b.    Gambuh (Bali)
    Gambuh adalah nama drama tari paling tua di Bali yang menyatukan cerita, tari, dan nyanyi. Menurut naskah kuno Bali, drama tari gambuh lahir pada masa Pemerintahan Udayana sekitarabad ke-10. Kesenian gambuh mendapat dukungan dari para raja dan tetap dipelihara sebagai seni pertunjukan istana. Gambuh biasanya mengambil lakon cerita-cerita panji, yaitu rangkaian hikayat yang mengisahkan kehidupan, perang, dan kisah cinta para raja atau bangsawan dari Kerajaan Jenggala, Kediri, dan Gagelang. Cerita-cerita panji dibawa oleh para bangsawan Hindu Majapahit ke Bali ketika terjadi pengungsian besar-besaran karena serbuan Islam sekitar abad ke-14.
    c.    Wayang wong (Jawa Tengah)
    Wayang wong merupakan bentuk drama tari dari keraton berdasarkan suatu paduan cerita yang disadur dari wayang dan gerak-gerak tari keraton, seperti serimpi dan bedhaya. Wayang wong telah ada sejak abad ke-12 di Jawa Tengah. Menurut tradisi pencipta wayang wong adalah Hamengku Buwono I (1755-1792) dari Yogyakarta atau Mangkunegara I (1757-1795) dari Surakarta. Wayang wong bukan sekadar bentuk hiburan, melainkan bagian dari upacara kenegaraan, seperti khitanan, perkawinan, dan penyambutan tamu negara.
    Gambuh dipertunjukkan terutama untuk mengisi upacara Manca Wali Krama, Ekadasa Rudra, Galungan, dan Kuningan. Selain itu, kesenian gambuh juga dipentaskan di keraton dalam rangka upacara perkawinan dan pelebon yang terangkum dalam upacara Panca Yudha. Gambuh biasanya di pertunjukkan selama sekitar 6 jam, dan diadakan pada siang hari. Namun jika kesenian gambuh dipentaskan pada malam hari hanya sebagai hiburan untuk para wisatawan yang berkunjung ke Bali.
    Pertunjukan wayang wong terbagi menjadi tiga, masing-masing ditegaskan oleh hubungan perlambangan nada gamelan, pathet nem, pathet sanga, dan pathet manyura. Wayang wong berkembang dan dibakukan di Keraton Surakarta dan Yogyakarta. Wayang wong biasanya dipentaskan di atas panggung tinggi lengkap dengan layar dan perlengkapan lain, masih dapatditemukan di kota-kota diPulau Jawa.
    2.    Teater Konvensional
    Teater konvensional, bersifat sederhana, namun menonjolkan kesan manusiawi dan universal.
    3.    Teater Modern
    Teater modern, hampir semua unsur dan gayanya dipengaruhi oleh teater Barat, ceritanya tertulis, pengarangnya teratur dan terorganisasi. Teater modern terbagi menjadi dua, yaitu:
    a.    Kontemporer, bersifat kekinian lebih mengutamakan kesan dan sensasi daripada kewajaran adegan.
    Contoh: monolog, drama absurd, dan drama minikata.
    b.    Film, merupakan seni teater yang disajikan dalam bentuk yang lebih kompleks dan sempurna.f

2 komentar:

Cara Cepat Belajar Mengaji Al quran Untuk Pemula [Mudah dan Praktis] November 9, 2017   by  Miqdad Nashr Belajar Mengaji  – Kitab Al...