Jumat, 11 April 2014

contoh skripsi bahasa arab pendahuluan

contoh skripsi bahasa arab pendahuluan


BAB I
PENDAHULUAN
A.     Penegasan Judul
Sebagaimana tertera dalam halaman judul, skripsi yang akan dibahas ini berjudul "FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB RENDAHNYA KEMAMPUAN BERBICARA PESERTA DIDIK KELAS VIII MADRASAH TSANAWIYAH TERPADU
Untuk lebih memperjelas dari penegasan judul di atas akan penulis uraikan sebagai berikut :
1.      Faktor-Faktor Penyebab
Faktor-faktor adalah kata ulang dari kata "factor" yang berarti sesuatu yang turut menentukan terjadinya sesuatu.[1] Sedangkan "Penyebab" adalah hal ikhwal yang menjadi permulaan adanya peristiwa atau kejadian.[2]
Jadi yang dimaksud faktor-faktor penyebab dalam pembahasan skripsi ini adalah segala sesuatu yang menyebabkan rendahnya kemampuan peserta didik dalam berbicara bahasa Arab.
2.      Kemampuan Berbicara
Menurut Aziz Fahrurrozi mengungkapkan bahwa keterampilan berbicara adalah kemampuan pengucapan suara Arab dengan pengucapan yang baik sehingga suara tersebut sesuai dengan makhrojnya yang telah ditetapkan oleh para ahli .[3]
Dapat penulis pahami bahwa keterampilan berbicara adalah kemampuan mengungkapkan pendapat atau pikiran kepada seseorang secara lisan dengan aturan kebahasaan tertentu.
3.      Peserta Didik
Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu.[4]
Jadi yang dimaksud penulis adalah sekelompok anak didik yang sedang mengembangkan potensi diri di lembaga pendidikan formal (Madrasah) pada jenjang tingkat menengah.
4.      Madrasah Tsanawiyah Terpadu Ushuluddin
Adalah sebuah lembaga pendidikan formal yang terletak desa Belambangan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan dan Lembaga tersebut yang menjadi objek penelitian penulis untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam penulisan skripsi ini.
Berdasarkan pengertian istilah-istilah di atas maka dapat disimpulkan bahwasanya yang dimaksud dengan judul skripsi ini adalah suatu pembahasan penelitian tentang: Faktor-Faktor Penyebab Rendahnya Kemampuan Berbicara Peserta Didik Kelas VIII Madrasah Tsanawiyah Terpadu Ushuluddin Belambangan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan.
B.     Alasan Memilih Judul
Sebagai bahan pertimbangan dalam pembahasan skripsi ini, maka ada beberapa hal yang melatar belakangi penulisan dalam memilih judul antara lain:
1.      Kemampuan Berbicara adalah salah satu dari empat kemampuan dalam bahasa Arab, berbicara merupakan faktor yang sangat penting dalam membina kepribadian seseorang dalam menguasai bahasa Arab.
2.      Peserta Didik Kelas VIII Madrasah Tsanawiyah Terpadu Ushuluddin Belambangan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan memiliki kemampuan berbicara yang masih rendah.

C.     Latar Belakang Masalah
Bahasa adalah alat berkomunikasi dalam proses berkomunikasi secara formal dan abstrak[5]. Hal ini sejalan dengan fungsi bahasa yaitu sebagai alat komunikasi atau alat interaksi yang hanya dimiliki manusia[6]. Berdasarkan penjelasan di atas dapatlah dipahami bahwa setiap orang yang ingin berkomunikasi dengan yang lain haruslah menggunakan bahasa, sebab tanpa bahasa tidak akan terjadi komunikasi atau interaksi antara sesama. Begitu pula dengan bahasa Arab yang selama ini telah digunakan kaum muslimin untuk berkomunikasi.
Bahasa Arab merupakan bahasa yang paling fasih diantara bahasa-bahasa yang lain dan yang paling tinggi gaya bahasanya yaitu sebagai bahasa A-l-Qur’an dan bahasa yang Allah menurunkan wahyunya menggunakan bahasa Arab.[7]
Dalam mempelajari bahasa Arab ada beberapa keterampilan yang harus dicapai oleh peserta didik atau bagi orang yang ingin mempelajari dan memahami bahasa Arab seperti diungkapkan oleh Henry Guntur Tarigan dalam mempelajari bahasa asing (Arab) ada empat keterampilan yang hendak dikuasai :
1.   Keterampilan menyimak
2.   Keterampilan berbicara
3.   Keterampilan membaca
4.   Keterampilan menulis[8]
            Dari pendapat di atas, terdapat empat keterampilan yang harus dikuasai oleh siswa yaitu keterampilan menyimak, keterampilan bicara, keterampilan membaca, keterampilan menulis.
           
            Berdasarkan dari keterampilan berbahasa di atas maka penulis tertarik untuk meneliti dari aspek keterampilan berbicara karena dengan berbicara seseorang mampu mengucapkan bahasa Arab secara benar dan tepat.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ahmad Fuad Effendi “berbicara merupakan sarana utama membina saling pengertian, komunikasi, timbal balik, dengan menggunakan bahasa sebagai medianya”.[9] Sedangkan menurut Aziz Fahrurrozi berbicara adalah suatu alat untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan pembicara (mutahaddits) dan penyimak (mustami’).[10]
Dapat penulis pahami bahwa berbicara adalah kemampuan seseorang  memberikan pemahaman terhadap lawan berbicara ketika terjadi interaksi sehingga mudah dicerna dan dimengerti antara pembicara (mutahaddits) dan penyimak (mustami’) dengan sempurna.
Menurut Aziz Fahrurrozi mengungkapkan bahwa keterampilan berbicara adalah kemampuan pengucapan suara arab dengan pengucapan yang baik sehingga suara tersebut sesuai dengan makhrojnya yang telah ditetapkan ileh para ahli .[11]
Dapat penulis pahami bahwa keterampilan berbicara adalah kemampuan mengungkapkan pendapat atau pikiran kepada seseorang secara lisan dengan aturan kebahasaan tertentu.
Agar siswa mampu memiliki kemampuan berbicara pada umumnya guru bahasa Arab mengadakan pembelajaran muhadatsah karena pembelajaran muhadatsah menerangkan dengan perkataan yang sesuai dengan yang dimaksud. Seperti yang diungkapkan Mahmud Yunus, bahwa “pembelajaran muhadatsah ialah menerangkan dengan lisan apa yang terlintas dalam hati dengan perkataan yang betul dan sesuai dengan yang di maksud”.[12]
Dari definisi di atas dapat dikatakan bahwasanya muhadatsah adalah menerangkan dengan ucapan atau lisan apa yang terlintas dalam hati dengan perkataan yang sesuai dengan yang di maksud. Hal ini juga berarti bahwa pembelajaran muhadatsah adalah pembelajaran yang mempengaruhi keterampilan berbicara bahasa Arab.
Dalam penerapan pembelajaran muhadatsah ada langkah-langkah yang perlu diketahui atau digunakan oleh guru. Adapun langkah-langkah pembelajaran muhadatsah seperti yang diungkapkan oleh Mahmud Yunus adalah sebagai berikut:
1)      Guru memilih materi pelajaran yang sesuai dengan otak siswa dan umurnya dan menarik hati mereka.
2)      Guru memilih kata-kata yang sesuai dengan pengetahuan siswa serta menandai kata-kata yang sulit dan menuliskannya di papan tulis.
3)      Guru menyiapkan alat-alat peraga yang menolong lancarnya pelajaran, serta pandai menggunakannya menurut mestinya.
4)      Bagi murid-murid yang baru belajar, guru harus menyertakan perkataan dengan perbuatan (isyarat), agar dapat melukiskan arti yang di maksud, kemudian siswa disuruh mencontohkannya.
5)      Apabila siswa telah pandai berbicara dalam bahasa Arab dengan kalimat- kalimat yang pendek, hendaknya guru memperhatikan macam-macam perbuatan atau isyarat (gambar), lalu mereka disuruh menerangkannya dengan kalimat yang sempurna.
6)      Pada akhir pelajaran guru harus mengadakan soal Tanya jawab dengan siswa, sebagai ulangan pelajaran muhadatsah itu, semua jawaban harus dalam kalimat yang sempurna.
7)      Apabila siswa telah agak maju dalam pelajaran muhadatsah, hendaklah Guru menyiapkan alat-alat peraga (benda, contoh-contoh, atau gambar-gambar) dan memperlihatkannya kepada mereka, dan bersoal jawab dengan mereka berkenaan dengan nama benda dan tempatnya, sifat-sifatnya, gunanya dan sebagainya. Sehingga lancar lidah mereka bercakap-cakap tentang keadaan benda itu.
8)      Suruhlah siswa mengeluarkan buku tulis dan menyalin kata-kata baru atau istilah-istilah yang tertulis di papan tulis.[13]
Adapun komponen-komponen dalam keterampilan atau kemampuan berbicara sebagaimana dikatakan oleh Henry Guntur Tarigan yaitu:
1.      Fonologi
2.      Struktur
3.      Kosa kata
4.      Kecepatan dan Kelancaran umum[14].
Dari pendapat di atas terdapat empat komponen dalam kemampuan berbicara yaitu aspek fonologi, aspek struktur, aspek kosa kata, dan aspek kecepatan dan kelancaran umum.
Ahmad Fuad Effendi mengatakan bahwa yang dikatakan memiliki keterampilan berbicara sebagaimana disarankan oleh para ahli yaitu terdiri dari Aspek Kebahasaan dan Non Kebahasaan.
1.      Aspek kebahasaan
a)      Pengucapan
pengucapan dalam makhorijul huruf
b)      Penempatan tekanan (Mad dan Syiddah)
Kesesuaian gaya berbicara dengan penutur aslinya (Masyarakat Arab)
c)      Nada dan Irama
Pengucapan kalimat Arab siswa
d)      pilih kata (Diksi)
kata atau kalimat bahasa Arab siswa harus tepat dan sesuai
e)      Pilihan Ungkapan
Sesuai dengan apa yang hendak diungkapkan siswa                  
f)        Susunan Kalimat
Sesuai dengan kaidah nahwu sorof
g)      Variasi
2.    Aspek non kebahasaan
a)      Kelancaran
Siswa berbicara bahasa Arab dengan fasih dan jelas (tidak ragu)
b)      Penguasaan Topik
Penguasaan siswa terhadap materi
c)      Penalaran (pemahaman)
Kemudahan siswa dalam memahami materi
d)      Keberanian
Keberanian siswa dalam berbicara bahasa Arab (Tidak Takut Salah)
e)      Kerajinan
Terampil dan rajin dalam menggunakan atau berbicara bahasa Arab.[15]
            Dari pendapat di atas dapat penulis pahami bahwa yang dikatakan memiliki kemampuan berbicara yaitu terdiri dari aspek bahasa dan non bahasa. Aspek kebahasaan meliputi: pengucapan,  penepatan tekanan, nada dan irama, pilih kata, pilihan ungkapan, susunan kalimat dan variasi. Aspek non kebahasaan meliputi: kelancaran, penguasaan topik, penalaran (pemahaman), keberanian dan kerajinan.     
Berdasarkan hasil pra survei yang peneliti lakukan di Madrasah Tsanawiyah Terpadu Ushuluddin Belambangan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan didapati data sebagai berikut:
TABEL 1
Keadaan Siswa Kelas VIII Madrasah Tsanawiyah
Terpadu Ushuluddin Tahun 2011
No
Kelas
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
1
VIII
VIII A
15
17
32
2
VIII B
13
11
24
Jumlah
56
Sumber : Hasil Prasurvei 7 November 2011
           
            Dari tabel di atas dapat dipahami bahwa kelas VIII  berjumlah 56 siswa, yang terdiri dari kelas VIII A berjumlah 32 yang terdiri dari 15 siswa laki-laki dan 17 siswa perempuan dan kelas VIII B berjumlah 24 siswa yang terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan dan  kelas IX  berjumlah 35 siswa, yang terdiri dari kelas 17 siswa laki-laki dan 18 siswa perempuan.
            Dari uraian di atas maka penulis akan meneliti kelas VIII dengan alasan, seyogianya siswa kelas VIII mampu memiliki kemampuan berbicara dengan baik akan tetapi kenyataannya siswa kelas VIII kemampuan berbicaranya masih rendah, yang peneliti khususkan di kelas VIII B, karena di kelas tersebut lebih banyak rendahnya peserta didik dalam kemampuan berbicara. Hal ini dapat dilihat dari tabel hasil tes yang penulis berikan kepada 24 siswa kelas VIII B. Hasilnya dapat dilihat sebagai berikut :
TABEL 2
Hasil Tes Kemampuan Berbicara Kelas VIII Madrasah Tsanawiyah Terpadu Ushuluddin Belambangan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan Tahun 2011
No
Kriteria nilai
Nilai Kemampuan Berbicara
Jumlah siswa
Prosentase
Keterangan
1
a.b
Nilai 7
3
12.5 %
Baik
2
a.b.c      
Nilai 6
5
20.8 %
Cukup
3
a.b.c         
Nilai 5
7
29 %
Kurang
4
c.d        
Nilai 4
9
37.5 %
Sangat Kurang
Jumlah
100%
Sumber : Hasil Tes Interview 7 November 2011[16]
Keterangan:
a.         Fonologi
b.        Struktur
c.         Kosa kata
d.        Kecepatan dan Kelancaran
Berdasarkan pada tabel  di atas, maka tergambar bahwa kemahiran berbicara peserta didik kelas VIII B nampaknya sebagian besar masih di bawah standar yaitu pemerolehan nilai baik berjumlah 3 peserta didik (12,5 %), nilai cukup 5 peserta didik (20.8 % ), nilai kurang 7 peserta didik (29 %), nilai sangat kurang 9 peserta didik  (37,5 %).
Melihat dari pemerolehan tes di atas tergambar bahwa kemahiran berbicara masih kurang yang ditunjukkan dari persentase hasil tes kepada peserta didik, sebagian besar peserta didik mendapatkan nilai di bawah cukup yaitu 66,5 % atau 16 peserta didik. Maka pernyataan di atas menggambarkan bahwa kemahiran berbicara masih rendah. Adapun kesalahan-kesalahan yang ada berupa kesalahan dalam kosakata, kecepatan dan kelancaran.
Berdasarkan paparan di atas maka penulis tertarik untuk meneliti Faktor-faktor apa saja yang dihadapi peserta didik sehingga kemahiran berbicara di Kelas VIII B Madrasah Tsanawiyah Terpadu Ushuluddin Belambangan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan masih rendah.

D.    Rumusan Masalah
Winarno Surakhmad menyatakan bahwa : ”Masalah adalah setiap kesulitan yang menggerakkan manusia untuk memecahkannya”.[17]
Menurut Sumardi Surya Brata, "Masalah atau permasalahan adalah adanya kesenjangan (Gap) antara das Sollen (yang seharusnya) dan das Sein (kenyataan yang terjadi)".[18] 
Dengan demikian dapat dimengerti bahwa masalah adalah kesenjangan yang terjadi antara seharusnya terjadi dengan kenyataan yang terjadi untuk dicari jawaban dan pemecahannya melalui penelitian.
Berdasarkan dari latar belakang masalah di atas, maka untuk merumuskan masalah secara spesifik yaitu “Faktor-faktor apa yang menyebabkan rendahnya kemampuan berbicara peserta didik Kelas VIII Madrasah Tsanawiyah Terpadu Ushuluddin Belambangan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan?”.
E.     Tujuan dan Kegunaan Penelitian
a.                   Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan rendahnya kemahiran berbicara peserta didik Kelas VIII Madrasah Tsanawiyah Terpadu Ushuluddin Belambangan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan.
b.      Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah:
                       1.      Secara teoritis, untuk menambah wawasan dan mengembangkan pengetahuan penulis tentang faktor-faktor penyebab rendahnya kemahiran berbicara.
                       2.     Secara praktis, sebagai input bagi lembaga pendidikan dan guru bahasa Arab sekaligus memperkaya informasi tentang faktor-faktor penyebab rendahnya kemahiran berbicara.
F.      Metode Penelitian yang digunakan
1. Jenis dan sifat penelitian
a. Jenis penelitian
Dilihat dari jenisnya, penelitian ini termasuk penelitian lapangan (fieldreaserch) yaitu "suatu penelitian yang dilakukan secara sistematis dengan mengangkat data yang ada di lapangan".[19]
Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data yang berkenaan dengan kemampuan berbicara di MTs Terpadu Ushuluddin Belamangan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan.
b Sifat penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif yaitu penelitian yang dilakukan dengan menjelaskan, menggambarkan variabel-variabel masa lalu dan masa sekarang (sedang terjadi) Atau dengan kata lain deskriptif  eksploratif  yaitu bertujuan untuk menggambarkan keadaan atau status fenomena.[20]
2. Populasi
Populasi menurut Sutrisno Hadi yaitu: “Semua individu untuk siap kenyataan yang diperoleh dari sampel itu hendak digeneralisasikan disebut populasi atau universe”[21]. Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto, populasi adalah keseluruhan subyek penelitian.[22]
Dari kedua pengertian di atas, jelas bahwa populasi merupakan seluruh individu yang mempunyai karakteristik tersendiri sehingga memungkinkan untuk diadakan penelitian. Pada penelitian ini yang dijadikan populasi adalah siswa kelas VIII Madrasah Tsanawiyah Terpadu Ushuluddin Belambangan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan yang berjumlah 56 siswa.
Dalam menentukan jumlah sampel yang diambil dari populasi penelitian maka dijelaskan oleh Suharsimi Arikunto bahwa untuk sekedar ancer-ancer maka apabila subyeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitian merupakan penelitian populasi. Tetapi jika jumlah subyeknya besar maka dapat diambil antara10-15% atau 25-30%.[23]
Berdasarkan pendapat di atas dalam penelitian ini populasi berjumlah 56 siswa, maka penulis mengambil semua subyek yang akan diteliti, jadi penelitian ini merupakan penelitian populasi.
3.      Alat Pengumpul Data
Dalam proses pengumpulan data di lapangan, penulis menggunakan metode pengumpulan data sebagai berikut:
a.       Tes
Tes adalah alat ukur yang diberikan kepada individu untuk mendapatkan jawaban-jawaban yang diharapkan, baik secara tertulis, lisan, maupun tindakan/perbuatan.[24] Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto “Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok”.[25]
Dapat penulis pahami bahwa tes adalah alat ukur atau serentetan pertanyaan baik lisan maupun tertulis untuk mengetahui batas keterampilan atau kemampuan seseorang atau kolektif. Metode tes ini penulis gunakan sebagai alat pengumpulan data dalam mengukur kemampuan berbicara peserta didik, menurut Indra Kusuma ada dua macam tes yaitu:
1.      Tes tertulis adalah suatu alat atau prosedur yang sistematis dan objektif untuk memperoleh data-data atau keterangan-keterangan yang diinginkan tentang seseorang, dengan cara yang boleh dikatakan cepat dan tepat.
2.      Tes lisan adalah tes yang pelaksanaannya dilakukan dengan mengadakan tanya jawab secara langsung antara pendidik dan peserta didik.[26]
Adapun tes yang digunakan adalah tes secara lisan, dan tes ini merupakan metode primer yang penulis gunakan untuk mengumpulkan data sekaligus mengukur Faktor-Faktor Penyebab Rendahnya Kemampuan Berbicara Peserta Didik Kelas VIII Madrasah Tsanawiyah Terpadu Ushuluddin Belambangan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan.
b.      Observasi
Observasi adalah “Pengamatan dan pencatatan yang sistematik terhadap gejala-gejala yang diteliti.”[27] Sedangkan observasi menurut Kartini Kartono adalah” “Studi yang disengaja dan sistematis tentang fenomena sosial dan gejala-gejala psikis dengan jalan pengamatan dan pencatatan.”[28]
Dari kedua pendapat tersebut, maka dapat penulis pahami bahwa observasi adalah suatu teknik pengumpulan data dengan jalan mengamati dan mencatat secara langsung maupun tidak langsung terhadap obyek yang diteliti itu. Menurut Sutrisno Hadi Observasi ada tiga macam di antaranya sebagai berikut :
1.      Observasi partisipan dan Non partisipan
2.      Observasi sistematis dan Non sistematis
3.      Observasi Eksperimen dan Non eksperimen[29]
Adapun jenis observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi non partisipan, yaitu peneliti tidak ambil bagian dalam kegiatan yang diobservasi, jadi di sini peneliti (observer) hanya sebagai pengamat.
Metode ini penulis gunakan untuk memperoleh data mengenai kegiatan pembelajaran muhadatsah di kelas dan mengamati kegiatan siswa dalam pembelajaran tersebut.
c.         Interview
Interview atau wawancara adalah “ sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara (interviewer) untuk memperoleh informasi dari terwawancara”.[30] Sedangkan menurut Sutrisno Hadi interview atau wawancara adalah suatu proses tanya jawab lisan di mana dua orang atau lebih berhadap – hadapan secara fisik yang satu dapat melihat yang lain dan dapat mendengar suara satu sama lainnya.[31] Adapun menurut jenisnya metode interview atau wawancara dapat dibagi menjadi tiga yaitu:
1.      Interview tak terpimpin
2.      Interview terpimpin
3.      Interview bebas terpimpin [32]
Jenis interview yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah interview bebas terpimpin, di mana interviewer telah memberikan kerangka-kerangka pertanyaan untuk disajikan. Interview ini penulis tujukan kepada kepala sekolah, guru bidang studi bahasa Arab dan beberapa peserta didik kelas VIII MTs. Ushuluddin Belambangan Kecamatan Penengahan Lampug Selatan. Metode interview dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh data tentang kesulitan-kesulitan yang dihadapi peserta didik dalam pembelajaran muhadatsah.
d.      Dokumentasi
Dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legger, agenda, dan sebagainya.[33] Sedangkan menurut Koentjaraningrat dokumentasi adalah kumpulan data variabel yang berbentuk tulisan.[34]
Dari kedua pendapat di atas, penulis dapat memahami bahwa metode dokumentasi adalah mencari data atau keterangan-keterangan yang berbentuk catatan, transkrip, buku dan lain-lain atau peristiwa penting yang sudah lalu.
Metode ini penulis gunakan untuk memperoleh dokumen berupa data tentang prestasi belajar yang dihasilkan siswa kelas VIII MTs. Terpadu Ushuluddin Belambangan Kecamatan Penengahan Lampug Selatan dalam pelajaran bahasa Arab, mengetahui sejarah berdirinya sekolah, jumlah murid, jumlah guru, struktur organisasi sekolah, keadaan guru, dan keadaan siswa.
4.      Teknik Analisis Data
Dari data yang telah terkumpul melalui alat pengumpul data, kemudian penulis mengolah data tersebut dan menganalisisnya guna memperoleh kesimpulan dari hasil penelitian ini. Adapun langkah-langkah pengolahan dan analisis data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
  1. Reduksi data adalah proses memilih, menyederhanakan, memfokuskan, mengabstraksi dan mengubah data kasar ke dalam catatan lapangan.
  2. Display atau sajian data merupakan suatu cara merangkai data dalam suatu organisasi yang memudahkan untuk pembuatan kesimpulan atau tindakan yang diusulkan
  3. Verifikasi data atau penyimpulan data adalah penjelasan tentang makna-makna data dalam suatu konfigurasi yang secara jelas menunjukkan alur kuasanya, sehingga dapat diajukan proposisi-proposisi yang terkait dengannya.[35]
Setelah pengolahan data kemudian penulis menganalisa data tersebut, dalam analisa data penulis menggunakan cara berpikir induktif, yaitu: “cara berpikir induktif berangkat dari fakta-fakta yang khusus peristiwa-peristiwa yang konkrit. Kemudian dari fakta-fakta atau peristiwa yang khusus ditarik generalisasi yang bersifat umum.”[36]
Berdasarkan pernyataan di atas, cara berpikir yang penulis gunakan dengan menguraikan faktor-faktor rendahnya kemampuan berbicara terlebih dahulu dari sifatnya yang khusus kemudian diambil kesimpulan yang bersifat umum. Dengan cara berpikir tersebut diharapkan akan menghasilkan suatu kesimpulan yang obyektif dan sesuai dengan maksud dari tujuan penelitian ini.


[1] Departemen Pendidikaii dan Kebudayaaii RI. Kamus Besar Bahasa Indonesia Balai, Pustaka, Jakarta, 1994, him. 234
[2] Ibid, hlm. 567
[3] Mahmud Kamil Annaqah, Ta’lim Allugoh al’arobiyah.jami’ah ummul quro, 1985. hlm. 151
[4] Departemen Agama RI Direktorat Jendral kelembagaan Agama Islam, Memahami Paradigma Baru Pendidikan Nasional dalam Undang-Undang Sirdiknas. Ditjcn Kelembagaan Agama Islam Depag, Jakarta, 2003, him. 35
[5]  Chair Alwasilah, Sosiologi Bahasa, PT. Angkasa, Bandung, 2004, hlm. 1
[6] Abdul Khoir dan Leoni Agustina, Sosiolinguistik Perkenalan amal, Jakarta, : Rineka Cipta,1995, hlm.4 
[7] Zulhanan, Metode Penbelajaran Bahasa Arab,  Bandar Lampung, Anur, 2005. Hlm. 1
[8] Sulthan Syahril, Thoroiku Tadris al-Lughah al-Arabiyah Baina al – Nazhoriyah wa al- Tatbiq, Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Intan Bandar Lampung.hlm.6
[9] Ahmad Fuad Effendi, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, Misyak, Malang. 2005, hlm 112
[10]  Aziz Fahrurrozi dan Erta Mahyudin, M.Pd, Pembelajaran Bahasa Arab, Direktorat Jendral Pendidikan Islam Departemen Agam republic Indonesia, Jakarta, 2009. Hlm. 290
[11] Mahmud Kamil Annaqah, Ta’lim Allugoh al’arobiyah.jami’ah ummul quro, 1985. hlm. 151
[12] Mahmud Yunus, Metode Khusus Bahasa Arab,  PT Hidakatya Agung, Jakarta, 1990, hlm. 68
[13] Mahmud Yunus, Metode Khusus Bahasa Arab (Bahasa Al-Qur’an), PT.Hida Karya Agung, Jakarta, 1990, hlm. 69-70
[14] Henry Guntur Tarigan, Berbicara Sebagai suatu Keterampilan Berbicara, Akasa, Bandung, thn 2008, hlm. 3
[15] Ahmad Fuad Effendi, Op Cip, hlm.125
[16] Obserfasi di MTs Terpadu Ushuluddin Belambangan, 7 November 2012
[17] Winarno Surakhmad, Pengantar Penelitian Ilmiah, Tarsito, Bandung, 1990, hlm. 34
[18] Sumadi Suraya Brata, Metodologi Penelitian, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003 hlm. 12.
[19] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Rineka Cipta, Jakarta, 1994, hlm. 78
[20]Ibid, hlm. 78
[21] Sutrisno Hadi, Metdologi Research Jilid I, Adi Offset, Yogyakarta, 1993, hlm 63
[22] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian suatu pendekatan Praktek, Bima Aksara, Jakarta, 1989, hlm. 115
[23] Suharsimi Hadi, Op-Cit, hlm 74
[24] Alinis Ilyas, Metodologi Penelitian, Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Intan Lampung,2003-2004, hlm 32.
[25] Suharsimi Arikunto, Op.Cit, hlm.112
[26] Indrakusuma, Manajemen Pendidikan dan Profesional Guru, PT. Gramedia, Jakarta, 1993, hlm. 21
[27] Cholid Nurbuko dan Abu Ahmadi, Metodologi Penelitian, Bina Aksara, Jakarta, 1997, hlm. 54
[28] Kartini Kartono, Pengantar Metodologi Research Sosial, Alumni, Bandung,  1983, hlm. 157
[29] Sutrisno Hadi, Op.Cit, hlm.36
[30] Suharsimi Arikunto, Op.Cit, hlm. 142
[31] Sutrisno Hadi, Op.Cit, hlm.92
[32] Cholid Narbuko dan Abu Ahomadi, Op.Cit, hlm.85
[33] Suharsimi Arikunto, Op.Cit, hlm. 206
[34] Koentjaraningrat, Metode-metode Penelitian Masyarakat, PT. Gramedia, Jakarta, 1985, hlm.46
[35] Alinis Ilyas, Op.Cit, hlm. 52
[36] Sutrisno Hadi. Metodology Research Jilid 1, Jogjakarta, Fakultas Psikologi, UGM, 1983, hlm. 42

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cara Cepat Belajar Mengaji Al quran Untuk Pemula [Mudah dan Praktis] November 9, 2017   by  Miqdad Nashr Belajar Mengaji  – Kitab Al...