Sabtu, 29 Januari 2011

hal yang bisa memacu perang mulut

Konflik antarpasangan seringkali muncul akibat kesalahpahaman sepele. Ini bisa jadi akibat perbedaan gaya komunikasi antara pria dan wanita. Memahami cara berpikir pasangan pun menjadi elemen penting dalam menjalin hubungan lebih harmonis.

Ketahui lima hal yang sering memicu kesalahpahaman antarpasangan,

1. Pria meminta, wanita menyembunyikanPria terbiasa mengajukan permintaan secara langsung. Sementara wanita seringkali beranggapan bahwa pria bisa membaca pikirannya. Wanita ingin pria tahu keinginkannya tanpa harus memberitahu.

2. Wanita suka hal detailWanita seringkali mengajukan pertanyaan detail yang tidak diingat pria, seperti, "Kamu ingat tidak pertama kali bertemu aku pakai baju warna apa?". Lalu diteruskan dengan, "Jika kamu peduli denganku pasti ingat."

Hal yang harus Anda ketahui adalah wanita memiliki ingatan luar biasa terhadap hal detail dan lebih sentimental dibandingkan pria. Meskipun pria tidak ingat hal detail, itu hanya karena perbedaan dalam cara mereka memproses informasi, bukan karena mereka tidak peduli.

3. Mendengarkan versus menyelesaikanKetika wanita memiliki masalah, pria cenderung sigap menawarkan solusi. Padahal wanita seringkali hanya butuh mencari pemahaman dan dukungan. Aturan praktisnya, saat menghadapi pria bermasalah, tawarkan dulu solusi, baru tunjukan empati. Sebaliknya, saat menghadapai wanita bermasalah, pria sebaiknya terlebih dahulu memberikan empatinya baru solusi.

4. Pria lebih bisa memilah emosi Wanita dan pria tidak berpikir dengan cara yang sama. Pria lebih bisa memilah sentuhan emosional dalam segala hal, baik pekerjaan maupun hubungan. Sedangkan, wanita lebih berpikir secara keseluruhan dan cenderung mencampuradukkan semua masalah.

5. Wanita banyak bicara, pria irit bicaraKetika wanita merasa stres, ia sangat butuh tempat untuk mencurahkan isi hatinya. Sedangkan pria, cenderung memilih diam saat stres. Ini membuat wanita seringkali merasa tidak dibutuhkan saat pasangannya stres.

resep dewasa

Sejumlah pasangan suami istri mungkin sesekali suka merasa tidak cocok satu sama lain. Dan hal itu sering menimbulkan cekcok dan merasa berat mengatasi masalah rumah tangga, termasuk juga merasa sulit membahagiakan pasangan secara emosional.

Ini menjadi satu di antara banyak alasan, kurangnya kepuasan emosional terutama pada suami. Mungkin benar, pria hanya membutuhkan kepuasan fisik. Dan hal ini, benar-benar membuat banyak wanita cenderung tidak tahu bagaimana memuaskan suami mereka secara emosional.

Bahkan, pada titik kejenuhan wanita akibat kesibukannya di luar rumah, dan juga mengurus anak, wanita cenderung mengabaikan kebahagiaan suami secara emosional.

Sebagai wanita, mungkin Anda butuh tips ini untuk membahagiakan suami seperti dikutip dari Times of India:

1. Pahami keinginan suami

Memahami keinginan pasangan adalah kunci untuk hubungan yang lebih baik. Psikolog Anjali Chhabria, asal India mengatakan, "Pria biasanya lebih sedikit berkata-kata, jadi belajar untuk memahami apa yang tidak mereka katakan," katanya.

"Perkawinan lebih dari sekedar lembaga suci antara dua orang. Anda harus memahami pasangan Anda. Coba pahami dia, dan membuat dia merasa bahwa Anda peduli tentang dia," tambahnya.

2. Komunikasi
Pria perlu kepuasan emosional seperti manusia lainnya. Oleh karenanya, mereka akan merasa dihargai dan merasa penting jika istri mereka mendengarkan hal-hal kecil yang mereka katakan.

Psikolog Chandni Mehta mengatakan, "Stimulasi emosional sangat penting bagi seseorang untuk tertarik dalam hubungan apapun."
Mulailah melakukan komunikasi ringan seperti membicarakan teman-temannya, keluarga, harapan, dan lain-lain. Jangan pernah menempatkan pria hanya sebagai alas atau sebagai pendengar setia dari keluhan Anda. Namun mulai saat ini, jadilah pendengar setia untuk setiap keluh kesahnya.

3. Aspek fisik

Seperti Chhabria mengatakan, perbedaan antara pria dan wanita adalah, bahwa, laki-laki membutuhkan seks untuk cinta dan wanita membutuhkan cinta untuk seks. Aspek fisik sangat penting dan itulah yang membuat perkawinan berbeda dari semua hubungan.

Yah, seperti kita semua tahu, ketika salah satu telah memanjakan dalam mendapatkan fisik dengan seseorang, aspek emosional secara otomatis ikut berperan. Membuat suami Anda merasa bahwa Anda senang dan puas dengan dia secara fisik.

4. Jangan berpura-pura

Jangan pernah berpura-pura di depan suami. Psikolog Varkha Chulani berkata, "Keaslian adalah ikatan pertama dari hubungan emosional. Jika ia melihat Anda telanjang secara fisik, ia juga harus dapat melihat Anda telanjang secara emosional. Iklim kepercayaan dibangun berdasarkan transparansi hubungan. Seharusnya tidak ada manipulasi atau permainan perasaan yang terlibat," ujar Chulani.

5. Beri dia kebebasan

Mencurigai suami terus-menerus bisa membuatnya merasa tak nyaman dan tidak betah berlama-lama di dekat Anda. Biarkan ia tetap sibuk dengan dunia kerjanya, ataupun dengan hobinya dan teman-temannya, asalkan porsi waktu bersama dengan Anda tetap menjadi prioritasnya. Anda tidak perlu melacak keberadaanya setiap waktu selama 24 jam. Berikan kepercayaan padanya dan selalu berfikir positif tentangnya, akan membuat pria merasa lebih dihargai dan membuatnya semakin menyayangi Anda.

ORANG TUA JD PENGHALANG HUBUNGAN ASMARA

Mempunyai pacar yang Anda sayangi tentu saja sangat menyenangkan. Kehadirannya bisa membuat hidup ini lebih berwarna dan bersemangat. Tapi, bagaimana bila kisah cinta tidak berjalan mulus karena orangtua tidak setuju dengan pasangan Anda.

Kebanyakan orangtua selalu merasa tahu yang terbaik, ini tidak dapat dipungkiri karena mereka memang lebih banyak pengalaman hidup. Tetapi apakah juga mencakup calon pasangan hidup Anda?  Sebelum membuat putusan, sebaiknya mari mengevaluasi situasi hubungan Anda, dikutip dari Datingtips.

- Tanyakan orangtua Anda mengapa mereka tidak menyukai pacar Anda

Tentu saja, orangtua punya alasan bila mereka memiliki kesan negatif terhadap seseorang. Tanyakan dengan sopan pada orangtua, mengapa mereka tidak menyukai pasangan Anda.

Keluhan mereka mungkin berkisar antara fisik, misalnya pacar Anda jauh lebih tua dari usia Anda. Atau mungkin juga karena perilaku pacar Anda yang terlalu lekat dengan Anda, padahal belum menikah.

- Tanyakan pada teman-teman Anda

Berbicaralah dengan teman-teman dekat Anda dan meminta pendapat mereka tentang pacar Anda. Bila ada sesuatu yang kurang sreg, jangan mendebat mereka, sebaliknya dengarkanlah apa yang teman-teman sampaikan.

Tentunya mereka memiliki pendapat juga dan bila mirip dengan sikap orangtua Anda, maka memang ada masalah dengan pasangan Anda.

- Mengevaluasi masalah

Kumpulkan semua informasi yang dapat tentang si dia. Lalu, evaluasilah. Tanyakan pada diri Anda, apakah akan tetap melanjutkan hubungan berdasarkan apa yang orang lain pikirkan tentang pacar Anda atau tidak.

Jika pacar Anda dianggap terlalu pemalu, mungkin dia membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengenal orang-orang di sekitar Anda. Bila pacar tidak menghormati orangtua Anda, Anda mungkin memang harus meninggalkannya.

Pada akhirnya, kata hati Anda sendirilah yang akan menentukan apakah kicah cinta ini akan berlanjut atau tidak.

- Evaluasi hubungan Anda

Anda harus memastikan mengapa menyukainya atau mempertahankannya. Apakah ini karena cinta pertama? Apakah Anda dipaksa oleh rekan-rekan untuk mempunyai pacar? Apakah Anda merasa bahwa Anda harus punya pacar untuk menjadi orang yang ‘normal’?

Apakah karena semata-mata untuk memenuhi kebutuhan seksual atau apakah Anda melihat diri Anda akan menikah dengannya? Anda dapat menggunakan "alasan" untuk mengevaluasi apakah akan melanjutkan hubungan atau tidak.

- Mengevaluasi sikapnya terhadap Anda

Apakah pacar Anda memperlakukan Anda dengan hormat atau dia menganggap Anda sebagai "pelacurnya"? Apakah dia pernah merugikan Anda baik secara fisik maupun emosional? Jika jawabannya tidak berada pada sisi positif, mungkin Anda perlu untuk mengakhiri hubungan.

Kamis, 27 Januari 2011

nikmat yg harus disyukuri

 من لم يشكر النعم فقد تعرض لزوالها ومن شكرها فقد قيد بعقالها

"Barang siapa yang tidak mensyukuri nikmat menginginkan hilangnya nikmat tersebut dan barang siapa mensyukurinya berarti dia telah mengikat nikmat tersebut dengan talinya"


Dalam hikmah ini Ibnu Athaillah menjelaskan bahwa orang yang tidak mau mensyukuri nikmat berarti dia berkeinginan agar nikmatnya hilang, tapi kalau mau bersyukur maka dia telah mengikat nikmat tersebut agar tidak hilang. Memang bersyukur itu sangat sulit. Banyak orang yang mengucapkan alhamdulillah tapi itu bukanlah syukur yang dikehendaki oleh Allah. Dalam

اعْمَلُوا آَلَ دَاوُودَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ (13) [سبأ/13]

13. Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang Tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah Hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih.



Manusia telah diberi akal maka dia menggunakannya untuk berfikir kepada Allah. Manusia harus berfikir bahwa Allah adalah satu sifat, dzat, dan pekerjaan-Nya. Manusia telah diberi nikmat berupa kedua mata, maka dia harus menggunakannya untuk melihat alam semesta ini sehingga dia yakin akan kebesaran Allah swt. Inilah syukur yang hakiki.

Memang nikmat tersebut diberikan oleh Allah hanya untuk sesuatu (ibadah) yang menyenangkan Allah. Jadi kalau nikmat tersebut tidak kita gunakan untuk amal ibadah dan kebaikan maka kita telah kufur nikmat. Orang yang seperti ini maka akan mendapatkan siksa dari Allah dan sebaliknya jika kita mau bersyukur kepada Allah maka Allah akan menambah nikmat tersebut. Dalam surat

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ (7) [إبراهيم/7]
7. Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".



Memang ada fenomena lain, ada orang yang tidak mau bersyukur kepada Allah tapi dia justru diberi nikmat yang melimpah sebagaimana orang-orang kafir. Ini tak lain adalah istidraj dari Allah swt. Allah juga memiliki sunnah bahwa jika Dia menghendaki kebaikan pada seorang hamba maka Dia akan mengampuni dosa-dosanya. Terkadang seorang muslim diberi rasa sakit, susah dan musibah. Ini adalah cobaan dari Allah untuk membersihkan dosa-dosanya. Sunnah yang lain juga diberikan kepada orang-orang yang melakukan amal jelek, maka dia akan diberi balasan sebagaimana amal jelek tersebut. Dalam surat An-Nisa' : 123 dijelaskan :

لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا (123) [النساء/123]

123. (Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong[353] dan tidak (pula) menurut angan-angan ahli Kitab. barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.

[353] Mu di sini ada yang mengartikan dengan kaum muslimin dan ada pula yang mengartikan kaum musyrikin. maksudnya ialah pahala di akhirat bukanlah menuruti angan-angan dan cita-cita mereka, tetapi sesuai dengan ketentuan-ketentuan agama.


Manusia diberi sakit, musibah, dan kesusahan, ini semua adalah cobaan untuk mengangkat derajat manusia tersebut. Dan semua musibah ini pada hakikatnya adalah nikmat. Oleh karena itu kita juga harus bersyukur jika mendapat musibah. Hal ini tak lain karena jika kita mendapatkan musibah maka Allah akan mengampuni dosa-dosa kita. Sebagaimana dalam surat As-Syura : 30 :

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ (30) [الشورى/30]

30. Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).


Lalu kenapa kita wajib bersyukur kepada Allah? Apakah hal tersebut ada faidahnya di sisi Allah?

Sejatinya kita bersyukur kepada Allah bukanlah karena Allah butuh kepada syukur kita. Justru yang mendapaat manfaat adalah kita sendiri. Allah memberi nikmat jika kita bersyukur, oleh karena itu jika kita diberi harta maka kita juga harus bershodaqoh kepada fakir miskin. Jika fakir miskin mendapatkan shodaqoh dari kita maka keadaan lingkungan menjadi harmonis dan tidak kumuh. Dengan demikian maka masyarakatlah yang mendapatkan faidahnya.

Ketika ada seseorang yang didzalimi oleh pejabat, lalu kita membela orang tersebut maka ini kemanfaatan yang sangar besar. Bukan Allah yang membutuhkan hal ini, namun kita sendiri lah yang membutuhkannya. Memang kalau Allah memrintahkan sesuatu maka sepertinya Allah lah yang membutuhkannya, padahal sebenarnya tidak, justru kita lah yang mendapatkan manfaat dari perintah tersebut. Allah telah berfirman dalam surat Al-Baqarah : 245 :

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (245) [البقرة/245]

245. Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), Maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.

ikhlas

متى طلبت عوضا على عمل طولبت بوجود الصدق فيه ويكفى المريب وجدان السلامة
Artinya : " Kapan kamu menuntut Imbalan ('Iwadh) atas suatu amal, maka kamu dituntut atas wujudnya kebenaran/keikhlasan amal tersebut, dan cukuplah bagi seorang yang ragu atas (kebenaran/keikhlasan amal) akan wujudnya keselamatan atas dirinya ".
Sudah maklum bahwa yang menjadi tuntutan bagi hamba Allah Subhanahu wa ta'ala ketika beribadah adalah supaya ia harus mengikhlaskan semua ketaatan yang menjadi perintah Allah Subhanahu wa ta'ala dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu yang lainnya, Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :
وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين .

Artinya : " Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus*.QS. Al-Bayyinah: 5.
*Lurus berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan. Banyak orang muslim, bahkan orang yang sering membicarakan tentang Islam dan berdakwah, mereka tidak bisa menemukan hakikat dari makna Ikhlas hanya karena Allah Subhanahu wa ta'ala dalam beribadah. Mereka menggambarkan kalau ibadah sudah lepas dari riya' (amal karena orang lain) itu disebut ikhlas. Padahal sebenarnya kandungan makna ikhlas jauh lebih dalam dari pengertian tersebut, perhatikanlah ayat Al Qur'an yang berbunyi :
فمن كان يرجو لقاء ربه فليعمل عملا صالحا ولا يشرك بعبادة ربه أحدا.
Artinya : " Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". QS.Al Kahfi : 110

Kalimah ( أحدا ) pada ayat tersebut lebih umum dan tidak khusus bagi orang yang berakal tapi mencakup sesuatu selain Allah Subhanahu wa ta'ala, barang siapa yang didalam ibadahnya ia meyekutukan Allah Subhanahu wa ta'ala dengan niat karena ingin harta, pangkat, sehat dan yang lainnya, seperti halnya ketika musholli ( orang yang sholat ) dangan niat supaya badannya sehat dengan gerakan-gerakan sholat atau karena tujuan duniawi, itu semua merupakan penghalang dari pada hakikat ikhlas kepada Dzat yang Maha Suci sesuai dengan dalil diatas yang sangat jelas ( ولا يشرك بعبادة ربه أحدا ) . Jadi, jelaslah bahwa ibadah karena selain Allah tidak bisa dikatakan Ikhlas, tidak ada bedanya antara amal karena duniawi ataupun karena ukhrowi (supaya masuk surga dan selamat dari neraka) sekalipun masih belum dikatakan ikhlas. Maka dari itu sesungguhnya ikhlas itu sangat berat. Mungkin sebagian orang ada yang musykil dengan memandang ayat Allah Subhanahu wa ta'ala :
أدخلوا الجنة بما كنتم تعملون.

Artinya : " Masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan". QS. An Nahl : 32

وجزاهم بما صبروا جنة وحريرا .

Artinya : " Dan dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera". QS. Al Insan : 12

Serta ayat-ayat Al Qur'an lainnya yang menerangkan bahwasannya Allah Subhanahu wa ta'ala menjadikan surga sebagai balasan atas amal-amal sholeh dalam rangka untuk taqorrrub kepada-Nya ketika masih di dunia. 
Sebagai jawabannya, sesungguhnya surga dijadikan balasan atas amal-amal sholeh, itu merupakan ketetapan dari satu arah (من طرف واحد) yang tidak lain adalah dari Allah subhanahu wa ta'ala. Adapun hamba-hambaNya yang mukmin, atas dasar ini (من طرف واحد), mereka tidak bisa memastikan sebuah a'qad (yang menuntut imbalan) kepada Allah dan juga karena mereka merupakan hamba yang dimiliki dan dikuasai oleh Allah.
Pada hikmah di atas, Ibnu 'Athoillah menuntut kita agar benar-benar bisa merefreksikan nilai ikhlas di dalam tha'at kepada Allah jikalau kita menginginkan imbalan atau i'wad. Sebenarnya tuntutan ini hanyalah sebagai peringatan bahwasanya ikhlas dalam beramal karena Allah tidak bisa dikumpulkan dengan menuntut imbalan dari-Nya, karena ikhlas itu menuntut adanya amal murni hanya karena Allah saja, dan tidak bisa dikatakan ikhlas apabila disertai dengan niatan minta imbalan dari-Nya.
Jadi, apabila seorang hamba yang ingin taqorrub / mendekatkan diri kepada Allah dengan bentuk suatu keta'atan dan ia menuntut imbalan atas amalnya, maka sesungguhnya ia bukanlah orang yang mukhlis karena Allah, jika ia dikatakan tidak mukhlis maka sangatlah tidak layak ia meminta imbalan atas amalnya. Kalau kita amati lembutnya i'barot yang dipaparkan oleh Ibnu Atho'illah yang mana beliau memakai kalimah "العواض" tidak memakai kalimah "الثواب" atau semisalnya, ini memberikan pemahaman bahwa kalimat "العواض" itu mengandung arti ada harapan meminta imbalan dari orang yang beramal atas amalnya, makna ini sangatlah berbeda dengan makna "الثواب" karena kalimah ini digunakan atas dasar ikrom إكرام / (memuliakan), anugerah dan ihsan dari Allah yang ditujukan kepada hamba-hamba-Nya yang benar-benar tha'at, dari segi ini "الثواب" tidaklah mengandung arti yang terkandung pada kalimat "العواض" (ganti dari sesuatu).
Penyebutan kalimat ats-tsawab, al-ajru dan al-jaza (الثواب, الأجر, الجزاء)merupakan penamaan dari satu arah yaitu dari Allah yang cinta terhadap hamba-hamba-Nya, maka dari itu wajiblah bagi seorang hamba agar tahu bahwasanya ia sama sekali tidak berhaq mendapatkan sesuatu walaupun amalnya sangat setinggi langit, akan tetapi Allah subhanahu wata'ala memberikan anugrah dengan sesuatu yang mengembirakan mereka yang disebut al-ajru, al-jaza' atau ats-tsawab. Jadi orang yang ikhlas, didalam hatinya tidak terlintas sedikitpun mengharapkan suatu imbalan, karena 'iwad tidak bisa mengarahkan sang amil kepada ridho Allah dan orang yang selalu mencari 'iwad maka hakikatnya didalam hati orang tersebut tidak ada nilai ikhlas kepada Allah. Ini memberikan pengertian bahwa penantian seorang hamba akan "الثواب" dari Allah dengan disertai rasa yaqin bahwasanya tsawab tersebut ia dapatkan dari Allah atas dasar anugerah, ihsan, dan ampunan dari Allah atas kesalahan-kesalahannya diiringi dengan selalu menunaikan dengan haq-haqNya itu, semua itu tidaklah merusak nilai kemurnian ikhlas karena Allah subnahu wata'ala, akan tetapi mengharap "الثواب" dan menantinya atas dasar ini termasuk sebagian dari tuntutan ‘ubudiyyah lillahi ta'ala.
Dari sini bisa difahami bahwa menuntut imbalan (العواض) adalah haliyahnya orang yang mempunyai i'tiqod bahwa ia mampu memberikan kemanfa'atan kepada orang lain yang menuntut akan imbalan. Adapun meminta "الثواب" adalah tingkah atau haliyahnya orang yang mengikrarkan dalam hatinya bahwa ia selalu membutuhkan anugerah dan dermanya Allah disetiap waktu. Kemudian Ibnu 'Athoillah memerintahkan bagi orang yang masih belum bisa ikhlas dan selalu meminta imbalan atas amalnya agar ia memohon keselamatan kepada Allah dari siksa yang disebabkan dari syirik yang samar (الشرك الخفيّ) yang menghinggapi hatinya. Dan tidaklah ada seorang hamba dari kalangan orang-orang sholih lebih-lebih dari kalangan orang yang selalu berbuat maksiat ia merasa tenang dan merasa sudah bersih dari kotoran-kotoran syirik khofi, akan tetapi sesungguhnya semakin ia dekat dengan Allah maka ia semakin tambah tahu akan kebesaran Allah dan semakin tambah keyakinannya akan kelancangannya disisi Allah serta ia akan lebih tahu keburukan haliyahnya dihadapan Nya. Mereka itu digambarkan sebagaimana yang termaktub dalam Al-qur'an surat Al-mukminun ayat 60 :
والذين يؤتون ما آتوا وقلوبهم وجلة أنهم إلى ربهم راجعون
Artinya : Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka#. QS. Al Mukminun : 60.
# Maksudnya: Karena tahu bahwa mereka akan kembali kepada Tuhan untuk dihisab, Maka mereka khawatir kalau-kalau pemberian-pemberian (sedekah-sedekah) yang mereka berikan, dan amal ibadah yang mereka kerjakan itu tidak diterima Tuhan.
Kita tahu bahwa makna dari ( ما آتوا ) adalah berbagai macam bentuk ketaatan dan pendekatan kepada Allah, mereka adalah orang-orang yang takut akan tidak diterimanya amal-amal mereka disisi Allah dan ditolakNya dikarenakan cacatnya amal mereka. Merekalah orang -orang yang disifati Allah di dalam firman-Nya:
إن الذين هم من خشية ربهم مشفقون. والذين هم بآيات ربهم يؤمنون. والذين هم بربهم لا يشركون.
Artinya : " Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati Karena takut akan (azab) Tuhan mereka. Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka. Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun). QS. Al Mukminun : 57-59
Coba kita bandingkan antara haliyah kita dengan haliyah mereka, apakah kita sudah sampai pada derajat mereka yang disifati oleh Allah didalam firman-Nya ? apabila kita jawab : ya, maka sungguh sangat hina haliyah kita dibandingkan dengan haliyahnya orang-orang yang maksiat kemudian ia menyesali atas kejelekan amalnya dan takut akan siksa Allah yang bisa jadi penyesalan dan rasa takut itu menjadi penolong atas perbuatan jeleknya. Sesungguhnya seorang hamba yang sudah naik pada level orang-orang sholeh dan shiddiqin tidak akan menemukan pada dirinya keyaqinan akan selamatnya ketaatan atau ibadahnya dan ia tidak akan meminta imbalan (العواض) atas amalnya karena menuntut imbalan menunjukkan tidak adanya nilai ikhlas dan hatinya masih dihinggapi syirik khofi.
Seyogyanya seorang hamba meminta "الثواب" kepada Allah bukan (العواض) atas dasar bahwa ia pada hakikatnya selalu membutuhkan Allah disertai memohon ampunan dan memohon sesuatu yang bisa memperbaiki urusan-urusannya baik di dunia maupun akhirat dan selalu memohon ridho Nya.

nafsu

KESENANGAN NAFSU DALAM MAKSIAT DAN TAAT
(حظ النفس فى المعصية ظاهر جليّ وحظها فى الطاعات باطن خفي ومداومة ما يخفى صعب علاجه)

Artinya : "kesenangan-kesenangan nafsu dalam maksiat merupakan perkara yang dhohir dan jelas, sedangkan kesenangan-kesenangan nafsu dalam ketaatan adalah perkara yang sifatnya bathin/samar, dan megobati perkara yang masih samar itu sulit untuk menyembuhkannya."
A. PENJELASAN
Kesenangan-kesenangan nafsu dari kema'siatan yang bisa melukai/mencederai pelakunya (menjadikannya berdosa) adalah perkara yang wujudnya dhohir, yang mana pengaruhnya sangat membekas di kalangan masyarakat. Kebanyakan hal ini ditimbulkan dari sesuatu yang bersifat materi.
Minum khomer, berbohong, bermain di tempat-tempat judi dan perbuatan tercela lainnya, kesemuanya itu secara dhohir merupakan kesenangan-kesenangan nafsu. Namun kesenangan-kesenangan tersebut sangat berpengaruh negatif yang berpotensi merusak tatanan kehidupan sosial dan keharmonisan hubungan sosial yang berlangsung di antara keluarga, Maka pengaruh yang bisa merusak ini seharusnya sudah cukup menjadi pengingat atau pencegah dalam melakukan hal yang negatif tersebut.
Adapun kesenangan-kesenangan nafsu yang bisa melukai dan menjadikan dosa bagi orang yang taat adalah sesuatu yang berasal dari dalam dan sangat samar. Tidak akan bisa merasakan kelembutan penyakit ini kecuali pelaku itu sendiri, oleh karena itu ia tidak akan menemukan sesuatu di depannya yang bisa mencegahnya dari penyakit tersebut, orang lain pun tidak mampu mendefinisikan bahwa ia (yang sedang melakukan ketaatan) sedang terserang penyakit atas amal ketaatan tersebut.
Kalau kita amati, tugas-tugas dakwah, jihad, amar ma'ruf, dzikir/kholwah, menyerahkan kelebihan harta bagi yang berhak menerimanya, kesemuanya itu secara dhohir tidak menghasilkan sesuatu kecuali hanya keletihan dan kecapean serta kerugian harta, lalu dari arah mana kesenangan-kesenangan nafsu yang didapatkan oleh orang yang melakukan ketaatan tersebut?
Ketaatan-ketaatan tersebut bisa dihinggapi dengan kesenangan nafsu yang samar yang mampu menghilangkan pahala ketaatan tersebut. Diantara kesenangan-kesenanagan nafsu yang samar tersebut adalah pujian dari manusia atas amal kebaikannya, ketenaran, dan perasaan pelakunya bahwa dirinya lebih baik dari orang lain.
Segi bahaya penyakit ini adalah kasamarannya dalam menggerogoti amal ketaatan sehingga masyarakat tidak bisa meneliti dan memantaunya, maka dari itu mereka tidak punya jalan untuk mengingatkannya karena kesamaran tersebut.
Kemudian hal-hal yang bisa menjadi pencegah bagi seorang hamba dari kemaksiatan sangat banyak sekali, untuk itu cukuplah bagi seorang hamba akan pantauan dan pandangan masyarakat terhadap kehormatannya.
Lalu apa yang bisa menjadi pencegah bagi hamba (yang taat) dari kesenangan-kesenangan nafsu (penyakit Qolbu) yang samar? Tidak lain adalah pendekatannya kepada Allah subhanahu wa ta'ala (Muroqobah). Dari sini dapat disimpulkan bahwa perkara yang masih samar itu sulit untuk disembuhkan sebagai mana hikmah yang disampaikan oleh Ibnu 'Athoillah.
B. DALIL
والله يعلم ما تسرون وما تعلنون (النحل : ١٩)
Artinya : " Dan Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan "(an nahl : 19)
وهو معكم أين ما كنتم ج والله بما تعملون بصير (الحديد : ٤ )
Artinya : " Dan dia bersama kamu di mama saja kamu berada. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan " al hadid : 04)
Dari ayat-ayat di atas kita tahu bahwa Allah itu Dzat yang Maha Melihat apa yang dikerjakan oleh seorang hamba. Baik amal itu dhohir maupun bathin Allah pasti akan tahu. Seorang hamba yang dari dhohirnya melakukan ibadah namun dari bathinnya masih ada unsur riya' maka tidak akan mendapatkan pahala. Inilah yang disebut dengan penyakit bathin yang sangat sulit untuk disembuhkan.
C. APLIKASI/PENERAPAN
Adapun hikmah yang dipaparkan oleh beliau rahimahullah mengandung beberapa mau'idhoh diantaranya :

  1. Seharusnya orang yang diberi taufiq oleh Allah untuk melaksanakan ketaatan dan menjalankan perintah-perintahNya supaya terus waspada terhadap kesenangan-kesenangan nafsu yang menggerogoti / masuk di dalamnya. Kesengangan nafsu ini Allah menyebutnya dengan باطن الإثم (dosa yang samar / bathin). Terkadang seseorang yang beribadah tidak merasa akan penyakit yang samar ini karena kesenangan-kesenangan tersebut tertutup rapat dengan dhohirnya ibadah dan ketaatan. Maka seyogyanya ia sadar bahwa Allah itu Maha Melihat ( بصير ), mengetahui akan ketidakjujuran mata dan apa yang disamarkan oleh hati. Jika seorang hamba tahu akan hal ini, seharusnya ia selalu mencurigai nafsunya sehingga kesenangan-kesenangan nafsu yang samar tersingkap dan mampu memerangi serta berusaha keras agar hatinya bersih dan selamat dari pemyakit itu sebelum ia berangkat menuju Allah.
  2. Wajib bagi orang yang ingkar dan yang sedang menasehati/menakut-nakuti orang-orang fasik ( maksiat) yang terus menerus dalam kedholimannya agar tidak memposisikan dirinya pada kedudukan bahwa ia lebih baik dari mereka yang sedang dalam kefasikan dan kemaksiatan tersebut. Karena apabila ia merasakan hal ini, berarti justru ia sedang melakukan dosa yang samar ( باطن الإثم ).
    Banyak sekali orang yang taat tidak menemukan hasil ketaatannya di hari kiamat kecuali hanya dosa-dosa yang dibungkus dengan ketaatan. Dan banyak sekali orang yang sering melakukan kemaksiatan namun ia menyesali atas perilakunya yang keji dan melanggar syari'at tersebut tidak menemukan sesuatu di akhirat kecuali maghfiroh atas dosa-dosanya.

  3. Jika sudah jelas bahwa mengobati penyakit hati yang masih samar dan berpotensi menghancurkan pahala amal ketaatan lebih sulit dari pada mengobati kejelekan-kejelekan yang sifatnya dhohir, maka selayaknya orang yang taat masih menganggap dirinya termasuk orang-orang yang maksiat dan segera menasehati dirinya sendiri sebelum menasehati orang lain .

Sesungguhnya solusi untuk menghilangkan kesenangan nafsu, dan mensucikan ketaatan/ibadah adalah kembali kepada pelakunya ('abidnya) itu sendiri, ia tidak mempunyai alat untuk menolong, membersihkan dan menyelamatkan diri dari penyakit tersebut, kecuali selalu melakukan pendekatan diri kepada Allah (Muroqobah) dengan cara memperbanyak dzikir. Ini adalah obat yang samar yang cocok untuk mengobati penyakit yang samar juga. Jika mampu mengambil obat ini, maka kejelekan-kejelekan nafsu tidak akan bisa masuk ke dalam dirinya.
Orang yang selalu muroqobah dengan berdzikir kepadaNya, sifat riya' tidak akan menemukan jalan untuk ikut andil merusak amal ibadahnya. Dzikir ini sering disebutkan oleh para Ulama' dengan sebutan "Dzikrul Qolbi".
Akan tetapi, perlu diketahui, hamba yang taat sangatlah sulit untuk mengambil obat yang samar ini. Ia harus mampu menyingkirkan pemikiran-pemikiran negatif yang bersifat duniawi agar bisa menemukan lezatnya dzikir yang bersih di dalam qolbunya. Inilah bentuk jihad yang samar yang bisa menjadikan amal-amal lain menjadi baik. Wallahu A'lam bishshowab.

Selasa, 25 Januari 2011

fiqih thaharah

Thaharah terbagi menjadi 2 macam :
1. Thaharah haqiqiyyah , yaitu bersuci dari najis yang terdapat pada badan, pakaian mupun tempat.
2. Thaharah hukmiyyah , yaitu bersuci dari hadats, seperti keluar mani, kentut dsb. yang terbagi lagi menjadi 3 macam ;Thaharah Kubro, yaitu mandi wajib. Thaharah Sughro, yaitu wudhu, dan Thaharah pengganti dari keduanya jika tidak ada air, yaitu Tayamum.

1. Thaharah Haqiqiyyah. (bersuci dari najis)
Pengertian najis adalah sesuatu yang secara syari'at diwajibkan bagi setiap muslim menghindar/menjauhinya dan membersihkannya bila sesuatu tersebut menimpanya.
Najis itu ada 12 macam :   ^_^
1. Tahi manusia
Berdasarkan sabda nabi Muhammad Sollallohu'alaihi wasallam :
اذا وطئ احدكم بنعليه الاذى، فان التراب له طهور
"Jika sendal salah seorang diantara kalian menginjak kotoran, maka tanah/debu sebagai menyuci baginya." Hadits sahih riwayat Abu Dawud : 385.

2. Air kencing manusia
Berdasarkan hadits nabi :
أن أعربياً بال فى المسجد فقام إلية بعض القوم , فقال النبي صلي الله علية وسلم (دعوه لا تزرموه) فلما فرغ دعا بدلو من ماء فصبة علية

Dari hadits Anas bin Malik radhiyallohu'anhu, bahwasannya seorang arab badui datang ke masjid kemudian kencing didalamnya, maka berdirilah para sahabat hendak menghentikannya, namun Rosululloh sollallohu'alaihi wasallam bersabda : "Biarkanlah dia dan jangan mengganggunya " , hingga setelah selesai sang badui menunaikan hajatnya maka Rosululloh meminta air kemudian di siramkan ke bekas kencing tersebut. HR Bukhari (6025) Muslim (284).

3. Madzi,
adalah air bening lekat-lekat yang keluar dari kemaluan ketika syahwat, keluar dengan tidak memancar dan tidak menyebabkan badan menjadi lemas setelahnya, terkadang keluar tanpa disadari. ini terjadi baik pada pria maupun wanita. ^_^
Madzi adalah najis berdasarkan Sabda Rosululloh sollalohu'alaihi wasallam kepada sahabat yang bertanya mengenai madzi : 
"قال النبي صلي الله علية لمن سألة عن المذي " يغسل ذكرة ويتوضي
Nabi bersabda : "Hendaknya ia mencuci dzakarnya kemudian berwudhu" HR Bukhari (269) Muslim (303).

4. Wadi,
adapun wadi adalah air bening pekat yang biasa keluar setelah buang air kecil, dan ini juga najis menurut kesepakatan ulama,
عن بن عباس قال " المني والودي والمذي ، اما المني فهو الذي منة الغسل وأما الودي والمذي فقال أغسل ذكرك أو مذاكيرك وتوضئ وضوءك للصلاة "
;Dari sahabat Ibn 'Abbas radhiyallohu'anhu berkata " Mani, wadi, dan madzi. Adapun mani maka mewajibkannya mandi, adapun wadi dan madzi maka ia ( Rasulullah ) berkata cucilah dzakarmu kemudian berwudhulah sebagaimana wudhumu ketika hendak sholat." HR Baihaqi dan disahihkan Al Albani dalam kitab sahih sunan abu dawud (190).

5. Darah Haidh.
Darah menstruasi adalah najis berdasarkan hadits Asma' :
قالت جاءت أمرأة إلي النبي صلي الله علية وسلم فقالت إحدانا يصيب ثوبها دم الحبيض كيف تصنع ؟ فقال " تحتة ثم تقرصة بالماء ثم تنضحة ثم تصلي فية"
;Seorang sahabiah datang kepada Rasulullah sollallohu'alaihi wasallam bertanya " Pakaian salah seorang dari kami terkena darah haidh, maka apa yang harus ia perbuat ?, Rasulullah menjawab : "Hendaknya ia mengeriknya kemudian mencucinya dengan air, kemudian (tidak apa-apa) ia shalat dengannya". HR Bukhari (227) Muslim (291).
Dari hadits diatas dapat kita ketahui bagaimana cara membersihkan pakaian dari darah haidh.

6. Kotoran binatang yang tidak dimakan dagingnya.
Berdasarkan hadits :
عن عبدالله بن مسعود قال أراد النبي صلي الله علية وسلم أن يتبرز فقال " ائتني بثلاثة أحجار " فوجد له حجرين وروثة (حمار) فأمسك الحجرين وطرح الروثة وقال هي رجس"
;Dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallohu'anh berkata : Nabi sollallohu'alaihi wasallam hendak buang hajat, kemudian memerintahkanku " Datangkan kepadaku 3 buah batu" maka aku hanya mendapati 2 batu dan routsah (kotoran himar), maka beliau mengambil batunya dan membuang routsah sembari berkata " Dia itu rijs (najis)". HR Bukhari (156)

7. Air liur anjing.
Air liur anjing adalah najis, berdasarkan Sabda Nabi sollallohu'alaihi wasallam :
طهور إناء أحدكم إذا ولغ فية الكلب أن يغسلة سبع مرات أولاهن بالتراب
"Sucinya tempat air kalian jika dijilat anjing adalah dengan mencucinya tujuh kali, dan yang paling pertama dengan menggunakan debu (tanah)". HR Muslim (279)

8. Daging Babi .
Daging babi selain haram juga najis, berdasarkan firman Alloh dalam Al Qur'an :
قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
;"Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi karena sesungguhnya semua itu rijs (najis) atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".
QS Al An'am : 145.

9. Bangkai.
yaitu hewan yang mati dengan sendirinya tanpa disembelih dengan alat secara syar'i. Maka ia najis dengan kesepakatan ulama berdasarkan hadits :
إذا دبغ الإهاب فقد طهر
;"Jika kulit (bangkai) telah disamak maka ia telah suci" HR Muslim (366)

Kecuali 3 bangkai berikut maka tidak najis :
1. Ikan dan belalang. Karena Rosululloh sollallohu'alaihi wasallam telah bersabda:
أحلت لنا ميتتان ودمان : أما الميتتان فالسمك , والجراد , وأما الدمان , فالكبد والطحال
;"Telah dihalalkan kepada kami dua bangkai dan dua darah, adapun dua bangkai yaitu bangkai ikan dan belalang, dan dua darah yaitu hati dan limpa " Hadits sahih riwayat Ibnu Majah (3218,3314)
2. Bangkai binatang yang tidak memiliki darah yang mengalir di tubuhnya.
إذا وقع الذباب في شراب أحدكم فليغمسه ثم لينتزعه فإن في إحدى جناحية داء وفي الأخرى شفاء
"Jika minuman salah seorang diantara kalian dihinggapi lalat maka hendaknya ia celupkan lalat itu kedalam minumannya kemudian menbuangnya, karena sesungguhnya pada salah satu sisi sayapnya (lalat) itu mengandung penyakit dan pada sisi yang lain terdapat penawarnya." HR Bukhari (3320)
3. Tulang, tanduk, kuku, dan bulu bangkai. maka tidaklah najis, berdasarkan riwayat dari Imam Bukhari dari Imam Az Zuhri secara mu'allaq namun dengan sighat Jazm sehingga haditsnya menjadi sahih :
قال الزهري – في عظام الميتة نحو الفيل وغيره – أدركت ناساً من سلف العلماء يمتشطون بها ويدهنون فيها ، لا يرون به بأسً"
"Berkata Imam Az Zuhri : "Aku mendapati ulama salaf bersisir dan berminyak dengannya. mereka tidak mempermasalahkannya"

10. Apa-apa yang terpotong dari anggota badan hewan sedangkan ia masih hidup. Sebagaimana sabda Rosulullah sollallohu'alaihi wasallam 
ماقطع من البهيمة وهي حية فهو ميتة
"Apa-apa yang terpotong dari binatang ternak sedang ia masih hidup maka itu adalah bangkai" HR Tirmidzi (1480), Abu Dawud (2858), Ibn Majah (3216)

11. Air liur binatang buas atau binatang yg dagingnya haram dimakan.
Ketika Rasulullah ditanya mengenai air yang berada di tempat terbuka, dan air bekas minum binatang buas, beliau bersabda : 
إذا كان الماء قلتين لم يحمل الخبث
;"Jika air tersebut lebih 2 qullah maka tidang mengandung najis" Hadits Sahih Abu Dawud (63).
Kecuali Kucing, maka bekas minumnya suci, berdasarkan sabda Rasulullah sollallohu'alaihi wasallam mengenai kucing : 
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم في الهرة: "إنها ليست بنجس إنها من الطوافين عليكم والطوافات"
;"Sesungguhnya dia tidaklah najis,dan sesungguhnya dia adalah termasuk binatang yang biasa berkeliaran diantara kalian." Sahih HR Imam Ahmad (5/303

12. Daging hewan yang tidak dapat dimakan (haram).
;أن اللّه تعالى ورسوله ينهاكم عن لحوم الحمر الأهلية، فإنها رجس
;"Sesungguhnya Alloh dan RasulNya melarang kalian dari daging himar (keledai) yang jinak, karena sesungguhnya dia itu najis" HR Muslim (1940).

WALI 9

allah

islam pasti kenal lafas ini

URGENSI SHOLAT PART II

Urgensi Shalat Dalam Kehidupan

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.(QS. Thoha: 132)
Salah satu hasil “kunjungan” Nabi saw kepada Allah SWT melalui Isra Mi’raj adalah turunnya perintah shalat yang diterima langsung oleh Rasulullah saw. Berbeda dengan perintah-perintah lainnya yang diturunkan melalui perantara malaikat jibril sang pembawa wahyu, perintah shalat merupakan perintah yang sangat istimewa karena Nabi saw langsung bertemu Allah SWT. Bahkan Jibril pun tidak sanggup mengantar Nabi saw ke langit ketujuh saat peristiwa Mi’raj tersebut.
Ini menunjukkan bahwa kedudukan perintah shalat di sisi Allah sangat penting bagi manusia. Shalat adalah sarana efektif bagi seorang hamba untuk langsung berkomunikasi dan berhubungan dengan Allah secara horizontal. Oleh karena Nabi saw bersabda, “Sholat adalah mi’rojnya orang-orang Muslim”.
Seberapa urgennya perintah shalat bagi kehidupan seorang manusia, terutama muslim? Berikut jawabannya:
1. Sholat adalah tiang agama. Rumah tanpa tiang akan roboh. Begitu pun keislaman seseorang, tanpa sholat maka keislamannya akan rapuh, apalagi di zaman modern sepert sekarang ini. Tarikan dunia menyilaukan kita sehingga kita terlena dan melupakan Allah SWT. Belum lagi maraknya ajaran sesat. Tanpa sholat maka keislaman kita lambat laun akan roboh. Jika roboh, maka kita tidak mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhiirat. Seorang pujangga berkata, “Walaupun hidup seribu tahun, kalau tak sembahyang apa gunanyaa...?
2. Shalat adalah amal yang akan pertama kali dihisab/diperhitungkan. Jika di awal perhitungan nanti amal shalatnya baik dan lulus, maka amal lainnya akan mudah dan cepat dihisab. Namun jika amalan shalat masih menyisahkan masalah, maka amalan lain akan mendapat kesulitan saat akan dihisab. Jika kita ujian masuk universitas atau melamar pekerjaan, maka jika ujian tahap pertama saja sudah terindikasi tidak lulus, maka ujian tahap berikutnya akan sulit diharapkan lulus.
3. Sholat dapat menuntun kita berperilaku moralis dan berakhlakul karimah. Allah SWT berfirman: “Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar” (QS. Al-Ankabut: 45). Jika seseorang yang mengerjakan shalat masih berbuat kemungkaran, berarti shalatnya masih harus diperbaiki, termasuk pemaknaan shalat itu sendiri yang kurang dipahami.
4. Shalat itu pembuka sarana datangnya rezeki. Apalagi jika shalat itu kita tegakkan pula di tengah-tengah keluarga kita. Allah SWT berfirman: Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thoha: 132). Boleh jadi rezeki kita dan keluarga kita saat ini “seret” dan sempit, karena kita “cuek” dengan sholat, dan kita “cuek” dan membiarkan keluarga kita tidak melaksanakan shalat. Jika rezeki ingin lancar dan luas, mulailah mendirikan shalat dan perintahkan keluarga kita mendirikan shalat.
5. Shalat, ditambah sabar, adalah sarana untuk mendapatkan solusi saat kita menghadapi suatu problema. Dewasa ini, banyak orang saat menghadapi problema malah datang ke paranormal, dukun atau orang pinter (pinter ngebodoh-bodohin orang lain). Padahal Allah SWT berfirman yang artinya; “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'“ (QS.A-Baqarah: 45)
6. Shalat adalah sarana untuk membawa misi kekuasaan yang diridhoi Allah SWT. Jika para pemimpin sekarang tidak membawa kemaslahatan, hal itu disebabkan rakyat yang memilihnya pun masih banyak yang tidak mendirikan shalat, sehingga melahirkan pemimpin koruptor, penerima suap dan melakukan praktek KKN. Namun jika para pemilihnya rajin shalat, maka mereka akan memilih pemimpin yang baik, yang juga mendirikan shalat sehingga menebar kebaikan, keadilan dan kesejahteraan di tengah rakyatnya. Allah SWT berfirman yang artinya; “orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (QS.Al-Hajj: 41)
7. Jika salah memilih pemimpin, yakni pemimpin yang tidak peduli dengan urusan shalat, maka akan datang dibelakangnya generasi “Cuek Sholat”, hiburan berbau maksiat marajalela, kezaliman penguasa dibiarkan, narkoba merambah ke mana-mana, dan akhirnya lahir kesengsaraan di mana-mana. Allah SWT berfirman yang artinya; “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan” (QS. Maryam; 59). Sehingga tidak heran kini kita temukan polisi menjadi pengedar narkoba, pejabat menjadi beking bos narkoba. Bahkan sebagaian pejabat saat diperiksa air urine-nya terindikasi terkena narkoba. Jika para pembuat kebijakan sudah terkena narkoba, lalu negeri dan rakyat ini akan mau dibawa kemana? Itulah pentingnya setiap kita mendirikan ibadah sholat.
Oleh karena itu, Allah SWT tidak main-main dalam memerintahkan sholat, sehingga perintah sholat langsung diturunkan kepada Nabi saw tanpa perantara malaikat jibril as. Jika Allah SWT begitu serius dengan urusansholat hingga mengundang langsung Rasulullah saw melalui peristiwa isra mi’raj, mengapa kita sebagai hambanya begitu meremehkan dan “cuek” terhadap sholat?. Naudzu billahi min dzalik.#

URGENSI SHOLAT

Kewailban dan syi'ar yang paling utama adalah shalat, ia merupakan tiang Islam dan ibadah harian yang berulang kali. Ia merupakan ibadah yang pertama kali dihisab atas setiap mukmin pada hari kiamat. Shalat merupakan garis pemisah antara iman dan kufur' antara orang-orang beriman dan orang-orang kafir, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah dalam hadist-hadistnya sebagai berikut:
"Batas antara seseorang dengan kekufuran adalah meninggalkan shalat. (HR. Muslim)
"Perjanjian antara kita dengan mereka adalah shalat, maka barangsiapa yang meninggalkan berarti ia kafir." (HR- Nasa'i, Tirmidzi dan Ahmad)
Makna hadits ini sangat jelas di kalangan para sahabat RA. Abdullah bin Syaqiq Al 'Uqaili berkata, "Para sahabat Nabi SAW tidak melihat sesuatu dari amal ibadah yang meninggalkannya adalah kufur selain shalat." (HR. Tirmidzi)
Tidak heran jika Al Qur'an telah menjadikan shalat itu sebagai pembukaan sifat-sifat orang yang beriman yang akan memperoleh kebahagiaan dan sekaligus menjadi penutup. Pada awalnya Allah berfirman:
"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusu' dalam shalatnya." (Al Mu'minun: 9)
Ini menunjukkan pentingnya kedudukan shalat dalam kehidupan seorang Muslim dan masyarakat Islam.
Al Qur'an juga menganggap bahwa menelantarkan (mengabaikan) shalat itu termasuk sifat-sifat masyarakat yang tersesat dan menyimpang. Adapun terus menerus mengabaikan shalat dan menghina keberadaannya, maka itu termasuk ciri-ciri masyarakat kafir. Allah SWT berfirman:
"Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (generasi) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan." (Maryam: 59)
Allah SWT juga berfirman mengenai sikap orang-orang kafir yang mendustakan risalah sebagai berikut:
"Dan apabila dikatakan kepada mereka: Ruku'lah, niscaya mereka tidak mau ruku'." (AI Mursalat: 48)
Kemudian dalam ayat lainnya Allah berfirman:
"Dan apabila kamu menyeru mereka untuk shalat, mereka menjadikannnya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal." (Al Maidah: 57)
Sesungguhnya masyarakat Islam adalah masyarakat yang Rabbani, baik secara ghayah (orientasi) maupun wijhah (arahan). Sebagaimana Islam itu agama yang Rabbani, baik secara nasy'ah (pertumbuhan) maupun masdar (sumbernya), masyarakat yang ikatannya sambung dengan Allah SWT, terikat dengan ikatan yang kuat. Shalat merupakan ibadah harian yang menjadikan seorang Muslim selalu dalam perjanjian dengan Allah. Ketika ia tenggelam dalam bahtera kehidupan maka datanglah shalat untuk menerjangnya. Ketika dilupakan oleh kesibukan dunia maka datanglah shalat untuk mengingatkannya. Ketika diliputi oleh dosa-dosa atau hatinya penuh debu kelalaian' maka datanglah shalat untuk membersihkannya. Ia merupakan"kolam renang" ruhani yang dapat membersihkan ruh dan menyucikan hati lima kali dalam setiap hari, sehingga tidak tersisa kotoran sedikit pun.
Ibnu Mas'ud meriwayatkan dari Nabi SAW, beliau bersabda: "Kamu sekalian berbuat dosa, maka kamu telah melakukan shalat subuh maka shalat itu membersihkannya, kemudian kamu sekalian berbuat dosa, maka jika kamu melakukan shalat zhuhur, maka shalat itu membersihkannya, kemudian berbuat dosa lagi, maka jika kamu melakukan shalat 'asar maka shalat itu membersihkannya, kemudian kamu berbuat dosa lagi, maka jika kamu melakukan shalat maghrib, maka shalat itu membersihkannya, kemudian kamu berbuat dosa lagi, maka jika kamu melakukan shalat isya', shalat itu akan membersihkannya, kemudian kamu tidur maka tidak lagi di catat dosa bagi kamu hingga kamu bangun." (HR. Thabrani)
Pelaksanaan shalat dalam Islam mempunyai keistimewaan yaitu dengan berjamaah dan adanya adzan. Berjamaah dalam shalat ada yang menyatakan fardhu kifayah sebagaimana dikatakan oleh mayoritas para Imam dan ada yang mengatakan fardhu 'ain sebagaimana dikatakan oleh Imam Ahmad.
Karena pentingnya shalat berjamaah maka Rasulullah SAW serius akan membakar rumah-rumah suatu kaum dengan api karena mereka ketinggalan dari shalat berjamaah dan mereka shalat di rumah-rumah mereka. Ibnu Mas'ud berkata tentang shalat:
"Kamu bisa melihat generasi kami (para sahabat), tidak ada yang tertinggal dari shalat berjamaah kecuali orang yang sakit atau munafik yang diketahui nifaqnya." (HR. Muslim)
Karena pentingnya shalat berjamaah maka Islam menekankan kepada kita untuk senantiasa mendirikan shalat secara berjamaah, walaupun di tengah-tengah peperangan. Maka dianjurkan untuk shalat"Khauf." Shalat ini merupakan shalat berjamaah yang khusus dilakukan pada saat peperangan di belakang satu imam dengan dua tahapan. Pada tahap pertama sebagian orang-orang yang ikut berperang shalat terlebih dahulu satu rakaat di belakang imam, kemudian meninggalkan tempat shalat untuk menuju ke medan perangnya dan menyempurnakan shalatnya di sana, kemudian pada tahapan berikutnya datanglah sebagian yang semula menghadapi musuh, untuk mengikuti shalat dibelakang imam.
Ini semua mereka lakukan dengan membawa senjata perang dan dengan penuh kewaspadaan. Mengapa ini semua mereka lakukan? Semata-mata agar tidak seorang pun dari mujahidin yang kehilangan keutamaan shalat berjamaah yang sangat ditekankan oleh Islam. Allah menjelaskan dalam firman-Nya,
"Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan satu rakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, lalu shalatlah mereka bersamamu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, la1u mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan adzab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu." (An-Nisa': 102)
Ayat ini selain menunjukkan kedudukan shalat berjamaah juga menunjukkan betapa pentingnya kedudukan shalat itu sendiri. Berlangsungnya peperangan, siap siaganya musuh dan kesibukan dalam berjihad fi sabilillah itu tidak menggugurkan kewajiban shalat. Tetapi tetap wajib dilaksanakan dengan cara semampunya, walaupun tanpa ruku', sujud dan menghadap kiblat ketika dalam peperangan yang serius. Cukuplah dengan berniat ketika dalam kondisi darurat dan melakukan apa saja yang mungkin dikerjakan seperti tilawah, isyarat berdzikir dan sebagainya. Allah SWT berfirman:
"Peliharalah segala shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wustha. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'. Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui." (Al Baqarah: 238-239)
Yang dimaksud dengan firman Allah, "Farijaalan aur-rukhaanan" adalah shalatlah kamu sambil berjalan atau berkendaraan, menghadap ke kiblat atau tidak, semampu kamu, ini sesuai dengan orang yang naik pesawat, mobil, tank dan lain-lain.
Shalat juga memiliki keistimewaan dengan adzan, itulah seruan Rabbani yang suaranya menjulang tinggi setiap hari lima kali. Adzan berarti mengumumkan masuknya waktu shalat, mengumumkan tentang aqidah yang asasi dan prinsip-prinsip dasar Islam, meliputi, "Allahu akbar empat kali, Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, dua kali. Hayya'alashshalaah dua kali. Hayya 'alalfalaah, dua kali, Allahu akbar, dua kali, kemudian membaca laa ilaaha illallah."
Adzan ini layaknya 'lagu kebangsaan' bagi ummat Islam yang didengungkan dengan suara tinggi oleh muadzin, lalu dijawab oleh orang-orang beriman di mana saja berada. Mereka bersama-sama ikut mengulang secara serempak kalimat-kalimat adzan itu, untuk menghunjamkan nilai-nilainya dalam jiwa dan memperkuat nilai-nilai itu dalam akal dan hati.
Shalat, sebagaimana disyariatkan oleh Islam, bukanlah sekedar hubungan ruhani dalam kehidupan seorang Muslim. Sesungguhnya shalat dengan adzan dan iqamatnya, berjamaah dengan keteraturannya, dengan dilakukan di rumah-rumah Allah, dengan kebersihan dan kesucian, dengan penampilan yang rapi, menghadap ke kiblat' ketentuan waktunya dan kewajiban-kewajiban lainnya' seperti gerakan, tilawah, bacaan-bacaan dan perbuatan-perbuatan, yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, dengan ini semuanya maka shalat punya nilai lebih dari sekedar ibadah. Sesungguhnya shalat merupakan sistem hidup, manhaj tarbiyah dan ta'lim yang sempurna, yang meliputi (kebutuhan) fisik, akal dan hati. Tubuh menjadi bersih dan bersemangat, akal bisa terarah untuk mencerna ilmu, dan hati menjadi bersih dan suci.
Shalat merupakan tathbiq 'amali (aspek aplikatif) dari prinsip-prinsip Islam baik dalam aspek politik maupun sosial kemasyarakatan yang ideal. Yang membuka atap masjid menjadi terus terbuka sehingga nilai persaudaraan, persamaan dan kebebasan itu terwujud nyata. Terlihat pula dalam shalat makna keprajuritan orang-orang yang beriman, ketaatan yang paripurna dan keteraturan yang indah.
Imam Asy-syahid Hassan Al Banna berkata, dalam menjelaskan shalat secara sosial, setelah beliau menjelaskan pengaruh shalat secara ruhani: "Pengaruh shalat tidak berhenti pada batas pribadi, tetapi shalat itu sebagaimana disebutkan sifatnya oleh Islam dengan berbagai aktifitasnya yang zhahir dan hakikatnya yang bersifat bathin merupakan minhaj yang kamil (sempurna) untuk mentarbiyah ummat yang sempurna pula. Shalat itu dengan gerakan tubuh dan waktunya yang teratur sangat bermanfaat untuk tubuh, sekaligus ia merupakan ibadah ruhiyah. Dzikir, tilawah dan doa-doanya sangat baik untuk pembersihan jiwa dan melunakkan perasaan. Shalat dengan dipersyaratkannya membaca AL Fatihah di dalamnya, sementara AL Qur'an menjadi kurikulum Tsaqafah Islamiyah yang sempurna telah memberikan bekal pada akal dan fikiran dengan berbagai hakekat ilmu pengetahuan, sehingga orang yang shalat dengan baik akan sehat tubuhnya, lembut perasaannya dan akalnya pun mendapat gizi. Maka kesempurnaan manakah dalam pendidikan manusia secara individu setelah ini? Kemudian shalat itu dengan disyaratkannya secara berjamaah, maka akan bisa mengumpulkan ummat lima kali setiap hari dan sekali dalam satu pekan dalam shalat jum'at di atas nilai-nilai sosial yang baik, seperti ketaatan, kedisiplinan, rasa cinta dan persaudaraan serta persamaan derajat di hadapan Allah yang Maha Tingi dan Besar. Maka kesempurnaan yang manakah dalam masyarakat yang lebih sempurna daripada masyarakat yang tegak di atas pondasi tersebut dan dikuatkan di atas nilai-nilai yang mulia?
Sesungguhnya shalat dalam Islam merupakan sarana tarbiyah yang sempurna bagi individu dan pembinaan bagi membangun ummat yang kuat. Dan sungguh telah terlintas dalam benak saya ketika sedang menjelaskan prinsip-prinsip kemasyarakatan saat ini bahwa shalat yang tegak dan sempurna itu bisa membawa dampak kebaikan bagi pelakunya dan bisa membuang sifat-sifat buruk yang ada. Shalat telah mengambil dari"Komunisme" makna persamaan hak dan persaudaraan yaitu dengan mengumpulkan manusia dalam satu tempat yang tidak ada yang memiliki kecuali Allah yaitu Masjid; dan Shalat telah mengambil dari"kediktatoran" makna kedisplinan dan semangat yaitu dengan adanya komitmen untuk berjamaah' mengikuti Imam dalam setiap gerak dan diamnya, dan barang siapa yang menyendiri, maka ia akan menyendiri dalam neraka. Shalat juga mengambil dari"Demokrasi" suatu bentuk nasehat, musyawarah dan wajibnya mengembalikan Imam ke arah kebenaran apabila ia salah dalam kondisi apa pun. Dan shalat biasa membuang segala sesuatu yang jelek yang menempel pada semua ideologi tersebut di atas seperti kekacauan Komunisme, penindasan diktaktorisme, kebebasan tanpa batas demokrasi, sehingga shalat merupakan minuman yang siap diteguk dari kebaikan yang tidak keruh di dalamnya dan tidak ada keruwetan"
Karena itu semua maka masyarakat Islam pada masa salafus shalih sangat memperhatikan masalah shalat, sampai mereka menempatkan shalat itu sebagai"mizan" atau standar, yang dengan neraca itu ditimbanglah kadar kebaikan seseorang dan diukur kedudukan dan derajatnya. Jika mereka ingin mengetahui agama seseorang sejauh mana istiqamahnya maka mereka bertanya tentang shalatnya dan sejauh mana ia memelihara shalatnya, bagaimana ia melakukan dengan baik. Ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW:
"Apabila kamu melihat seseorang membiasakan ke Masjid, maka saksikanlah untuknya dengan iman." (HR. Tirmidzi)
Kemudian Nabi membaca firman Allah sebagai berikut:
"Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk." (At-Taubah: 18)
Dari sinilah, maka pertama kali muassasah (lembaga) yang dibangun oleh Rasulullah SAW setelah beliau hijrah ke Madinah adalah Masjid Nabawi. yang berfungsi sebagai pusat ibadah, kampus bagi kajian keilmuan dan gedung parlemen untuk musyawarah.
Umat bersepakat bahwa siapa yang meninggalkan shalat karena menentang kewajiban shalat dan karena menghinanya maka ia telah kafir. Dan mereka berbeda pendapat mengenai orang yang meninggalkan tidak secara sengaja tetapi karena malas, sebagian mereka ada yang menghukumi kafir dan berhak dibunuh seperti pendapat Imam Ahmad dan Ishaq. Sebagian lagi ada yang menghukumi fasiq dan berhak dibunuh, seperti Imam Syafi'i dan Malik, dan sebagian yang lain ada yang mengatakan fasik dan berhak mendapat ta'zir (hukuman, atau pengajaran dengan dipukul dan dipenjara sampai ia bertaubat dan shalat, seperti Imam Abu Hanifah. Tidak seorang pun di antara mereka mengatakan bahwa shalat itu boleh ditinggalkan menurut kehendak seorang Muslim, jika mau ia kerjakan dan jika ia tidak mau, maka ia tinggalkan dan hisabnya terserah Allah. Bahkan mereka (para Imam) mengambil kesepakatan bahwa termasuk kewajiban hakim atau daulah Muslimah untuk ikut mengancam dan memberi pengajaran bagi setiap orang yang secara terus menerus meninggalkan shalat.
Maka bukanlah masyarakat Islam itu masyarakat yang membiarkan orang-orang bergabung dengan Islam, sementara mereka hidup tanpa ruku' kepada Allah SWT, tanpa mereka memperoleh.sanksi atau pengajaran dengan alasan bahwa manusia itu mempunyai hak kebebasan untuk berbuat.
Bukan pula masyarakat Islam itu masyarakat yang menyamakan antara orang-orang yang shalat dan orang-orang yang tidak shalat apalagi mengutamakan orang-orang yang tidak shalat dan menjadikan mereka sebagai pemimpin.
Bukan pula masyarakat Islam itu yang membangun perkantoran-perkantoran, lembaga-lembaga, pabrik-pabrik dan sekolah-sekolah, sementara di dalamnya tidak ada Masjid yang dipergunakan untuk shalat dan didengungkan suara adzan.
Bukanlah masyarakat Islam itu masyarakat yang sistem kerjanya tidak mengenal waktu shalat, sehingga bagi siapa saja dari karyawannya yang tak menepati peraturan itu (yang tidak mengenal waktu shalat) akan dikenakan sanksi yang sesuai dan akan dituding sebagai berbuat kesalahan.
Bukanlah masyarakat Islam itu masyarakat yang ketika mengadakan seminar, resepsi, pertemuan-pertemuan dan ceramah-ceramah, sementara ketika masuk saatnya shalat tidak ada suara adzan dan tidak didirikan shalat.
Sebelum itu semuanya, bukanlah dikatakan masyarakat Islam itu masyarakat yang tidak mengajarkan shalat kepada putera-puterinya di sekolah-sekolah dan di rumah-rumah, sejak masa kanak-kanak. Maka ketika mereka berusia tujuh tahun mereka harus diperintahkan, dan ketika berusia sepuluh tahun mereka dipukul apabila meninggalkan shalat.
Bukanlah masyarakat Islam itu masyarakat yang tidak menjadikan shalat termasuk serangkaian kurikulum pendidikan pengajaran dan penerangan yang pantas diperhatikan dalam agama Allah dan dalam kehidupan kaum Muslimin.

PROFILE GENERASI SHOLEH

 Para orangtua berlomba-lomba menyekolahkan anak mereka di sekolah yang bermutu tinggi, dan juga memberikan pendidikan ekskul di tmp les-les yang ternama. Tapi orangtua lupa, tugas mendidik anak sebenarnya adalah tanggung jawab sebagai orangtua, bukan sebagai si pemberi dana untuk pendidikan semata.

Pendidikan apakah yang perlu kita terapkan kepada anak? Tentu saja pendidikan mengenal sang Pencipta, rasulNya, kitabNya, dan agamaNya. Tidak hanya cukup untuk mengenalNya, tetapi menerapkan rasa cinta kepadaNya, rasulNya, kitabNya dan agamaNya juga.

Caranya? Dengan memberikan contoh kepada anak, bukan hanya dengan mengajar dan menyuruh, tetapi orangtua secara aktif juga memberikan contohnya secara langsung. Bagaimana bisa, kita menyuruh anak kita untuk sholat, sedangkan kita sendiri tidak sholat? Bagaimana bisa kita megharapkan anak kita dipenuhi oleh rasa kasih sayang kepada sesama, tetapi kita sendiri pelit untuk bersedekah? Bagaimana kita bisa mengharapkan anak kita patuh terhadap kita, sedangkan kita durhaka kepada orangtua kita? Ajarkan, perintah dan beri teladan.

Untuk menananmkan rasa cinta anak kepada nabi dan rasul Allah, sering-seringlah ceritakan kisah-kisah teladan para nabi dan sahabatnya, sehingga si anak merasa mengenal sosok para nabi terutama baginda Rasullullah sehingga tumbuh rasa cinta dihatinya karena si anak mengenal dan mendapatkan sosok teladan yang akan dia teladani, bukannya meneladani power rangers yang sering ia tonton atau artis-artis yang sering berseliweran di layar kaca yang akhir-akhir ini malah menjadi contoh public figur yg banyak melakukan perbuatan tercela.

Agar si anak mencintai Al-Quran, semenjak dari kandungan, perdengarkanlah ia lantunan ayat-ayat suci Al-Quran, Bukan hanya musik-musik klasik dari dunia barat sana. Karena jika dewasa, si anak sudah merasa akrab dengan Al-Quran karena sudah diperdengarkan semenjak ia berada didalam kandungan. Dan alangkah bagusnya ayat-ayat suci itu dilantunkan sendiri dari suara dan bibir si orangtua, bukannya dari kaset. Dan juga, jangan lupakan doa untuk si anak dan tentu untuk kita sendiri.

"Ya Allah, jadikanlah aku dan keluargaku sbg pecinta Al-Quran, dan jadikanlah Al-Quran mencintai kami."

Karena orang yang dicintai Al-Quran sudah pasti tentu yang mencintai Al-Quran dan org yang di cintai Al-Quran, dengan sendirinya di cintai oleh Allah.

Ajarilah dan perkenalkanlah si anak dengan agamanya, dan bukan pengetahuan agama secara umum saja. Karena banyak kasusnya ummat islam yang hanya mengetahui ajaran agamanya sendiri sekedar kulit-kulit arinya saja. Yaitu hanya sebatas rukun islam dan rukun iman saja. Sungguh sangat ironis, bahwa banyak para muallaf, yang baru saja memeluk agama islam (yang bersungguh-sungguh karena kesadarannya bukan karena demi cinta kepada seseorang, demi harta, demi jabatan, di bawah ancaman dll) yang lebih banyak mengetahui seluk beluk ajaran islam itu sendiri daripada orang yang sudah memeluk islam semenjak ia lahir atau islam karena keturunan. Seharusnya, kita yang beragama islam semenjak lahir, harus lebih mengetahui agama kita sendiri karena sudah kita anut seumur hidup kita dan juga di anut oleh orangtua kita daripada orang yang baru saja memeluk agama islam. Its very embarrassing is'nt it?

Selain pendidikan, apalagi yang diperlukan untuk mendapatkan generasi sholeh di masa depan?Cukupkah hanya pendidikan saja untuk bisa menjadikan anak kita menjadi anak yang sholeh?Jawabannya tentu saja TIDAK!!!!!!!!

Ternyata watak, karakter dan sifat si anak sangat dipengaruhi dari apa yang ia makan dan apa yang ia pakai. Jika si anak memakan makanan/minuman haram walau setitik saja, maka makanan/minuman yang haram tersebut akan membuat karakternya, wataknya, dan sifatnya menjadi buruk. Begitu pula dengan pakaian atau apapun yang ia punya. Jika kita memberikan atau membelikannya dari sesuatu yang haram, maka akan berpengaruh ke si anak.

Apakah kita cukup menjaga si anak dari hal-hal yang haram? tentu saja tidak. Kita sebagai orangtua atau calon orangtua, harus bisa menjaga diri kita dari hal-hal yang haram juga.

Karena, ternyata kita harus menjaga diri dari hal-hal yang di haramkan oleh Allah walau setitik saja dari sebelum si anak di ciptakan. Karena, si anak tentu berasal dari (maaf) sperma dan sel telur dari ayah dan ibunya. Bayangkan saja, jika kita memakan dan memakai hal-hal yang haram, maka sesuatu yang haram itu akan menyatu menjadi darah daging kita. Dengan begitu, diri kita sendiripun menjadi haram dan apa yang keluar dari tubuh kita adalah sesuatu yang haram juga.

Jadi bagaimana kita bisa mendapatkan anak yang suci lahiriah dan batiniah sedangkan kita memberikan anak kita 'darah' yang haram yang mengalir di tubuh si anak.

Mia pernah mendengar cerita di suatu majelis taklim, tentang ada seorang laki-laki mendatangi Rasullullah untuk mengadukan sifat dan perangai buruk anaknya.

"Ya Rasullullah, sungguh saya mempunyai seorang putra yang beranjak remaja. Semenjak kecil, dia sangat susah untuk diajarkan sebuah kebenaran,  selalu melawan perintah kami. Ajaran agama yang kami ajarkan sepertinya tidak pernah masuk ke telinga dan ke hatinya. Padahal kami, orangtuanya selalu mengajarkan agama sesuai tuntunan Al-Quran dan sunnahmu. Saya dan istri saya juga taat kepada ajaran agama, sholat, puasa dan sedekah tidak pernah kami tinggalkan. Kami juga tidak pernah memakan hak orang lain atau hal-hal yang diharamkan oleh agama. Akan tetapi, kenapa Allah memberikan kami anak yang berperangai buruk, jauh dari agama dan durhaka kepada orangtua?"

Rasullullahpun bertanya. "Adakah sesuatu yang engkau atau istrimu lakukan ketika sedang mengandung anak kalian yang diharamkan oleh agama?"

Sang lelaki tersebut merenung berpikir sejenak dan lalu menjawab. "Seingat hamba, kami tidak pernah memakan atau memakai atau melakukan sesuatu yang diharamkan oleh Allah..." Kemudian dia berhenti sejenak. "Kecuali ada satu kesalahan kecil yang sempat hamba lakukan ya Rasullullah. tetapi itu karena sangat terpaksa."

"Apakah yang telah kau lakukan itu?" tanya Rasullullah

"Ketika istri hamba mengandung anak kami, istri hamba kala itu mengidam memakan buah kurma. Jadi hambapun segera berangkat ke pasar bersama istri hamba untuk membeli buah kurma. Akan tetapi waktu itu telah masuk waktu sholat sehingga semua pedagang meninggalkan dagangannya untuk pergi sholat sehingga tidak ada satupun pedagang yang hamba temui saat itu untuk berdagang. Akan tetapi waktu itu istri hamba terus merengek-rengek ingin memakan buah kurma walau hanya satu saja, jadi hambapun mengambil satu buah kurma dari salah satu tempat pedagang tersebut dan memberikannya kepada istri hamba.

"Itulah yang membuat anakmu tuli telinganya untuk nasehat-nasehat yang baik, buta matanya untuk melihat kebenaran dan tertutup hatinya akan ajaran agama, dan menjadi anak durhaka baik terhadapmu baik terhadap Allah. Itu smua dari SATU biji kurma yang telah dimakan oleh istrimu yang dimana engkau memberikannya dari hasil yang haram. Walau hanya satu biji, engkau sudah sama dengan mencurinya dari pemilik kurma, memakan hak orang lain yang sepatutnya harus kau bayar.Sebiji kurma itu telah menjadi haram untukmu, istrimu dan calon anakmu. Sehingga kurma yang haram itu menyatu kedalam darah anakmu sehingga membuat sifatnya menjadi buruk karena terhalang dari rahmat Allah karena makanan haram tersebut."

Si lelaki tersebut langsung menangis tersedu-sedu dan sangat menyesali perbuatannya tersebut. Ia tidak menyangka, hanya karena 1 biji kurma yang ia ambil demi ngidamnya sang istri telah membawa dampak yang buruk kepada buah hatinya

"Apa yang harus saya lakukan ya Rasullullah?"

"Memohon ampunlah engkau dan istrimu kepada Allah, dan segeralah engkau pergi mencari pedagang kurma tersebut dan meminta maaf kepadanya agar ia merelakan 1 biji kurma yang telah engkau curi tersebut walaupun ia tidak mengetahuinya. Bayarlah 1 biji kurma itu agar menjadi halal bagi anakmu.IsnyaAllah, hal haram yang telah menjadi penghalang antara anakmu dan rahmat Allah, bisa hilang."


Astagfirullah... hanya 1 biji kurma yang telah ia curi demi mengobati ngidam istrinya saja, telah menjadi penghalang rahmat Allah atas anaknya. Rahmat itu bukan hanya berupa rezeki semata, akan tetapi dibukakannya pintu hati dan segala panca indera kita terhadap cahaya Ilahi berupa iman, ketaqwaan, kebenaran, keberkahan, anak yang sholeh, suami dan istri yang sholeh dan lain-lainnya adalah termasuk Rahmat dari Allah.

Selain itu, adanya barang2 yang haran yang kita miliki, atau makanan dan minuman haram yang kita konsumsi dan akhirnya menjadi lebur di tubuh kita sehingga membuat darah dan daging kita menjadi haram, akan membuat doa kita tidak terkabulkan oleh Allah. Itu juga salah satu membuat rahmat Allah terhalang atas kita, karena terkabulnya doa-doa kita adalah merupakan salah satu rahmat dari Allah.. Atau hidup kita walau serba berkecukupan, tetapi hati terasa was-was, hidup tidak tenang, anak-anak durhaka, istri atau suami yang selalu bertengkar atau tidak harmonis, juga merupakan salah satu akibat dari tidak adanya rahmat Allah dikeluarga itu karena tertutup oleh sesuatu yang haram yang dipakai atau yang mereka makan yang akhirnya menyatu menjadi darah daging.

Jadi, untuk mendapatkan anak keturunan yang sholeh, dimulai dari diri kita saat ini. Adakah kita memakai, memakan, meminum dan mengerjakan hal-hal yang diharamkan oleh Allah? Jika iya, maka apapun yang keluar dari kita, apapun yang kita hasilkan (darah, daging, sperma, sel telur) akan menjadi haram adanya. Dan ini akan berpengaruh ke watak dan sifat anak dan keturunan kita nanti. Mereka akan terhalang dari rahmat Allah dan jauh dari anak yang sholeha. Oleh karena itu, mulailah kita membersihkan dan mensucikan diri dari sekarang dengan tidak memakai, memakan dan meminum sesuatu yang diharamkan oleh Allah. Dan jangan lupa untuk berzakat dan bersedekah untuk membersihkan dan mensucikan harta halal yang kita punya menjadi suci.

Selain itu, berhentilah sebagai orangtua yang berperan sbg donatur pendidikan bagi anak kita, akan tetapi jadilah sebagai pendidik dari si anak tersebut. Pelajarilah agama kita lebih mendalam lagi agar kita bisa mengajari anak kita dengan pengetahuan agama yang tidak cuma dari kulit luarnya saja. Dengan begitu, si anak bisa mengenal agamanya, kitabnya, rasulnya dan Tuhan-nya. Sehingga timbul kesadaran untuk menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya yang mana itu semua bertujuan baik untuk kehidupan manusia.  Dan berikanlah contoh yang baik. Tidak hanya memberikan perintah tapi juga mencontohkannya langsung kepada anak serta tentu saja tidak lupa selalu mendoakan mereka dengan doa yang baik dan dengan ucapan yang baik.

InsyaAllah, kelak kita akan mempunyai anak dan keturunan yang sholeh dan sholeha yang selalu dijaga dan dirahmati oleh Allah. Amieeen...

mmmmmmmmmmmmmmmuuuuaaaaaah

klik here

  • Baby Names & Meaning

    Baby Names and Meanings

thaharah

Thaharah atau bersuci merupakan salah satu bagian dari ciri dan keistimewaan terpenting dalam Syariat Islam. Hanya Islam yang memiliki syariat lengkap tentang hukum bersuci. Thaharah mencakup:
1.      suci lahir, yaitu: suci badan, pakaian, dan tempat shalat.
2.      suci batin, yaitu: suci hati dari syirik dan dosa-dosa lainnya, seperti: dengki dan iri hati.
Adapun tujuan dari thaharah adalah: mensucikan diri dari hadats besar maupun hadats kecil.
            Hukum thaharah sebagai syarat sahnya ibadah harus diketahui oleh setiap muslim. Dengan memahami thaharah dan mengamalkannya, shalat menjadi sah dan diterima Allah swt, hingga tercapailah tujuan kita yaitu shahih al ibadah.

Urgensi Thaharah
1.      Mendapatkan cinta Allah swt
Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih ( al Taubah: 108).
2.      Kebersihan adalah setengah dari keimanan (HR. Muslim).
3.      Shalat tidak diterima jika tidak disertai dengan bersuci (HR. Muslim).

Definisi Thaharah
Thaharah artinya bersih dan suci, yaitu: hilangnya segala perkara yang menghalangi dari shalat dan ibadah lainnya.

Bersuci bagi seorang muslim secara umum memiliki 4 tingkatan, yaitu:
  1. Suci lahir dari hadats dan barang najis (khubuts)
  2. Suci anggota tubuh dari perbuatan dosa dan maksiat
  3. Suci batin dari akhlaq yang tercela
  4. Suci jiwa dari selain Allah swt, yaitu peringkat para Nabi dan orang-orang yang shiddiq.
Inilah tingkatan keimanan. Seorang hamba tidak mungkin mencapai tingkat lebih tinggi kecuali telah melampaui peringkat sebelumnya.
            Yang menjadi pokok bahasan adalah thaharah lahir. Dalam masalah thaharah ini, hendaklah kita menjauhi sifat berlebih-lebihan. Cukuplah dengan apa yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah saw, sehingga waktu kita tidak habis untuk perkara yang lahir saja, sedangkan kesucian batin tidak terpenuhi.


Najis

Najis adalah: segala perkara yang dianggap kotor oleh Syariat Islam.
Najis ada 2 macam, yaitu:
1.      Najis hukmy: segala perkara yang disertakan oleh Syariat Islam ke dalam hal yang mewajibkan kita untuk mandi dan wudhu'. Hadats terbagi 2, yaitu:
-         Hadats besar, seperti: junub, haidh, nifas.
-         Hadats kecil, seperti: kentut.
2.      Najis ainy: benda yang dianggap kotor oleh syariat Islam, seperti: air seni.
Pembagian Najasah
Najasah terbagi tiga:
  1. Najasah yang disepakati ( berat)
-         Bangkai semua hewan yang hidup di darat. Adapun hewan laut bangkainya suci dan halal.
-         Darah yang mengalir dari hewan
-         Daging babi
-         Air kencing manusia
-         Tahi manusia
-         Madzi, yaitu: cairan berwarna putih kental yang keluar karena syahwat atau letih dari pria atau wanita, tapi lebih sering dialami oleh wanita. Diwajibkan untuk mencuci kemaluan. Jika kena pakaian cukup dipercik air.
-         Wadi, yaitu: Cairan putih encer yang keluar setelah buang air kecil. Diwajibkan untuk mencuci kemaluan.
-         Daging hewan yang tidak halal dimakan
-         Darah haidh
-         Darah nifas
         Darah istihadhah

-         Tahi dan kencing hewan yang tidak halal dimakan dagingnya

-         Air liur anjing

  1. Najasah yang masih diperdebatkan ( ringan)

-         Air kencing hewan yang halal dimakan dagingnya

-         <SPAN dir=ltr>Tahi hewan yang halal dimakan dagingnya

-         Mani

-         Muntah

-         Bangkai hewan yang tidak berdarah

-         Minuman keras

  1. Najasah yang dimaafkan

-         Debu jalanan

-         Darah yang sedikit

-         Nanah dari manusia atau hewan yang halal dimakan dagingnya



Cara membersihkan Najis

1.      dicuci

2.      dipercik air

3.      digosok atau dikerok

4.      diseka



Cara membersihkan baju yang kena najis: jika najisnya padat, maka harus dikerok. Jika cair, maka cukup dicuci saja.



Cara membersihkan tubuh, pakaian, dan tempat dari air kencing anak laki-laki yang masih menyusui dan belum mengkonsumsi makanan lain: dipercik dengan air.



Cara membersihkan najis dari permukaan tanah: dengan menghilangkan najis yang berbentuk padat dan menyiramnya dengan air.



Cara membersihkan sandal: digosok atau dipakai berjalan di tanah yang bersih dari najis.



Cara membersihkan permukaan benda yang datar, seperti kaca, lantai, dan pisau: diseka atau dilap.



Cara membersihkan tempat air atau makanan yang dijilat anjing: dicuci 7 kali, salah satunya dengan tanah.

Cara Cepat Belajar Mengaji Al quran Untuk Pemula [Mudah dan Praktis] November 9, 2017   by  Miqdad Nashr Belajar Mengaji  – Kitab Al...